Kota Bontang, Kalimantan Timur, mulai menggeser fokus ekonominya dari sektor industri ke pariwisata.

Langkah ini diambil untuk menyambut kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN) yang diproyeksikan meningkatkan permintaan akomodasi berkualitas.

>>> Mensos targetkan setiap kabupaten/kota miliki gedung Sekolah Rakyat

Melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Pemerintah Kota Bontang memperkenalkan konsep Villa Bontang Kuala.

Resor eksklusif ini dibangun di atas perairan, memadukan pesona alam pesisir dengan fasilitas bertaraf internasional.

Sasaran utama proyek ini adalah para ekspatriat, tenaga ahli, pelaku bisnis, dan wisatawan kelas menengah atas. Mereka diperkirakan akan terus berdatangan seiring perkembangan IKN.

Keunikan Bontang Kuala

Bontang Kuala bukan nama asing bagi pencinta wisata bahari di Kalimantan Timur. Kawasan ini telah lama dikenal sebagai destinasi unik di wilayah pesisir.

Berbeda dengan kawasan pantai pada umumnya, hampir seluruh permukiman dan aktivitas masyarakat di Bontang Kuala berdiri di atas air.

Bangunan ditopang oleh tiang-tiang kayu ulin yang terkenal kuat dan tahan lama.

Jalur penghubung antarbangunan juga terbuat dari kayu ulin yang membentang di atas perairan tenang. Pemandangan ini berpadu harmonis dengan hamparan hutan mangrove di sekelilingnya.

Berjalan menyusuri jembatan kayu memberikan pengalaman berbeda.

>>> PT Prodia Diagnostic Line Lepas 522 Juta Saham Lewat IPO

Saat matahari terbit, permukaan laut memantulkan cahaya keemasan, sementara senja menghadirkan langit berwarna-warni yang memantul indah di atas air.

Debur ombak yang lembut dan semilir angin laut menciptakan suasana tenang yang sulit ditemukan di tempat lain.

Data Kunjungan dan Okupansi

Berdasarkan data Dinas Pariwisata Kota Bontang hingga Juni 2026, saat ini terdapat sekitar 45 unit vila dan penginapan tradisional yang beroperasi di kawasan Bontang Kuala.

Tingkat hunian rata-rata penginapan tersebut berkisar antara 45 hingga 55 persen per tahun.

Pada musim puncak kunjungan, yakni Juni hingga Agustus serta Desember hingga Januari, tingkat hunian dapat meningkat hingga 75–85 persen.

Sebaliknya, pada periode sepi seperti Februari hingga Maret, okupansi turun menjadi sekitar 30–38 persen.

Secara keseluruhan, kawasan ini dikunjungi sekitar 28.000 hingga 32.000 wisatawan setiap tahun.

Angka tersebut menunjukkan bahwa Bontang Kuala memiliki daya tarik yang kuat.

>>> Apple Naikkan Harga Perangkat Akibat Krisis Memori Global

Namun, potensi itu masih terbuka lebar untuk dikembangkan, terutama melalui peningkatan kualitas layanan dan fasilitas guna menjangkau segmen wisatawan dengan daya beli lebih tinggi.