Ancaman Nyata Kecerdasan Buatan

Akselerasi AI generatif kini mengikis posisi pekerja kerah putih berketerampilan tinggi, bukan lagi sekadar menggantikan pekerjaan manual.

Profesi analis hukum, pembuat kode pemrograman tingkat menengah, riset pasar, hingga spesialis keuangan mulai tergantikan.

Perusahaan dapat memotong jumlah tim hingga separuh tanpa menurunkan produktivitas melalui sistem AI. Akibatnya, terjadi surplus tenaga kerja ahli yang membuat jumlah pelamar jauh melebihi lowongan kerja.

Kepala Eksekutif Janco, Victor Janulaitis menjelaskan bahwa inflasi dan ketidakpastian ekonomi membuat perusahaan menunda perekrutan tenaga IT.

"Mengapa mereka harus merekrut spesialis AI untuk sesuatu yang mungkin tidak menghasilkan?" ucap Janulaitis, dikutip dari Wall Street Journal.

Kehilangan pekerjaan ini memicu guncangan gaya hidup karena para profesional tersebut umumnya memiliki beban finansial tinggi, seperti cicilan hunian premium dan sekolah internasional.

Proses pencarian kerja baru bagi eksekutif senior juga memakan waktu lebih lama karena perusahaan menghindari kandidat yang dinilai terlalu matang.

>>> Afrika Selatan Kehilangan Dua Pemain Kunci Jelang Lawan Republik Ceko

Situasi kompetitif ini memaksa pekerja melakukan peningkatan keterampilan atau menurunkan ekspektasi gaji.