Pasar tenaga kerja global mengalami pergeseran besar yang mengancam profesi berpendapatan tinggi. Berbagai sektor yang sebelumnya dianggap aman kini melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masif.

Sektor teknologi, jasa keuangan, dan konsultan bisnis menjadi bidang yang paling merasakan tekanan efisiensi ini. Posisi-posisi strategis sengaja dipangkas untuk menekan biaya operasional perusahaan.

>>> ISI Yogyakarta dan James F. Sundah Foundation Luncurkan Beasiswa Riset Hak Cipta

Data Janco Associates yang bersumber dari Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat mencatat pengangguran sektor teknologi informasi naik menjadi 3,8% pada April 2026.

Angka ini meningkat dari 3,6% pada Maret 2026.

Integrasi teknologi Kecerdasan Buatan (AI) menjadi alasan utama perampingan operasional. Meta mengurangi sekitar 8.000 pegawai atau 10% untuk membiayai investasi di bidang kecerdasan buatan.

Langkah serupa diambil Nike dengan memangkas 2% atau 1.400 karyawan yang mayoritas berada di departemen teknologi.

Sementara itu, Snap mengeliminasi 16% atau 1.000 peran demi mendongkrak efisiensi.

Penurunan juga melanda bidang telekomunikasi dan pengolahan data yang kehilangan 11% atau 342 ribu pekerjaan. Puncak dari tren pengurangan ini sebelumnya terjadi pada November 2022.

Saat periode keemasan industri teknologi, profesi insinyur perangkat lunak, analis data, hingga manajer produk mendapatkan penawaran gaji tinggi serta fasilitas opsi saham.

Namun, berakhirnya era modal mudah akibat kenaikan suku bunga global membuat aliran dana ventura menyusut.

Perusahaan teknologi berskala besar maupun kecil kini terpaksa melakukan penghematan anggaran. Kondisi ini berakibat pada pemangkasan pekerja bergaji tinggi demi menyelamatkan neraca keuangan.

>>> Putaran Pertama Grup Piala Dunia 2026 Berakhir, Sejumlah Tim Besar Tertahan

Sektor perbankan investasi dan konsultan manajemen juga mengurangi posisi analis akibat penurunan aktivitas merger, akuisisi, serta IPO.