Kementerian Pertanian (Kementan) memasukkan bawang putih ke dalam agenda swasembada pangan nasional era Presiden Prabowo Subianto.

Langkah ini bertujuan menekan angka impor yang saat ini mencapai 90 persen dari total pasokan domestik.

>>> Kemendikdasmen Usulkan Tambahan Anggaran Rp40,75 Triliun untuk RKP 2027

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyatakan program pemenuhan kebutuhan mandiri ini diproyeksikan terealisasi dalam tiga hingga empat tahun mendatang.

Namun, pemerintah menghadapi tantangan serius berupa ketersediaan lahan dataran tinggi dan keterbatasan stok bibit lokal.

"Kita butuh at least 3-4 tahun untuk bisa mencapai swasembada ini.

Tantangan paling utamanya adalah ketersediaan lahan, dan juga khususnya lagi adalah ketersediaan bibit," kata Sudaryono dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Rabu kemarin.

Tantangan Lahan dan Bibit

Tantangan pengadaan lahan dinilai lebih ringan dibandingkan swasembada beras karena hanya memerlukan sekitar 100.000 hektare. Namun, lahan tersebut harus berada di dataran tinggi.

Pemerintah telah mengidentifikasi tiga lokasi potensial yang memiliki karakteristik iklim mikro sesuai, yaitu Sembalun di Nusa Tenggara Barat, Temanggung, dan Humbang Hasundutan.

Tantangan berikutnya adalah faktor pembibitan. Indonesia sudah terlalu lama mengandalkan pasokan impor sehingga tidak memiliki stok bibit mandiri.

Negara produsen luar negeri dipastikan tidak akan bersedia memasok bibit dalam volume massal untuk lahan seluas 100 ribu hektare.

"Kan selama ini negara kita ini impor, yang kita makan itu impor. Maka untuk bisa tanam butuh bibit.

>>> Messi Cetak Hat-trick, Ronaldo Gagal Gol di Piala Dunia 2026

Bibit tuh misalnya kita impor dari mana lah, dari negara lain, misalnya mengimpor bibit dari China kan kita tidak mungkin impor bibit untuk 100 ribu hektare, Nggak mungkin tuh," jelas Sudaryono.