Masalah adaptasi tanaman juga membayangi karena benih impor memerlukan proses penangkaran terlebih dahulu oleh petani lokal agar bisa tumbuh optimal di bawah kondisi iklim Indonesia.

Kementan mengawali proyeksi ini dengan melibatkan Asosiasi Petani Bawang, BUMN pangan seperti ID FOOD dan Bulog sebagai off-taker hasil pembibitan, serta PTPN untuk alokasi lahan dataran tinggi.

"Mulai jalan tahun ini, tahun ini kita 5 ribu hektare.

Pakai APBN (tanam) 5.000 hektare, BUMN sama swastanya diharapkan 20 ribu hektare karena kita mengarah ke 100 ribu hektare," tutur Sudaryono.

Pemerintah mengalokasikan dana pembiayaan dari APBN sebesar Rp75 juta per hektare untuk fase awal ini. Total anggaran penanaman perdana mencapai sekitar Rp375 miliar hingga Rp400 miliar.

Hasil produksi dari penanaman awal tidak akan langsung didistribusikan untuk konsumsi pasar, melainkan dialokasikan seluruhnya sebagai pemenuhan stok bibit baru.

Pengurangan volume impor nasional akan berjalan signifikan secara bertahap seiring kenaikan produktivitas hasil panen dalam negeri.

>>> AS dan Iran Teken Nota Kesepahaman Islamabad, Blokade Laut Dicabut

"Sembari berjalan ini nanti kuota impornya InsyaAllah akan terus kita, sambil kita kurangi dengan mendorong produktivitas dalam negeri kita," tegas Sudaryono.