Kementerian Pertanian (Kementan) memasukkan bawang putih ke dalam program swasembada pangan nasional. Langkah ini bertujuan menekan ketergantungan impor yang mencapai 90 persen.

Target pemenuhan kebutuhan mandiri diproyeksikan terealisasi dalam tiga hingga empat tahun ke depan.

>>> Angka Kematian Akibat Ebola di RD Kongo Capai 196 Orang

Pemerintah mengidentifikasi tantangan utama berupa pemenuhan lahan dataran tinggi seluas 100.000 hektare serta penyediaan bibit yang adaptif dengan iklim lokal.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menjelaskan bahwa pengadaan tanah dan benih menjadi fokus krusial. "Kita butuh at least 3-4 tahun untuk bisa mencapai swasembada ini.

Tantangan paling utamanya adalah ketersediaan lahan, and juga khususnya lagi adalah ketersediaan bibit," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Rabu.

Kebutuhan area tanam tersebut dinilai lebih ringan daripada swasembada padi karena areanya lebih kecil.

Namun, lahan yang dibutuhkan harus berada di wilayah pegunungan yang saat ini tersebar di tiga lokasi.

"Kita sudah ada tiga, di Sembalun di Nusa Tenggara Barat, kemudian di Temanggung, dan juga di Humbang Hasundutan.

Nah itu tantangannya, jadi nyari tempatnya yang kurang lebih mirip-mirip seperti itu, tempatnya yang tinggi," jelas Sudaryono.

Masalah lain muncul dari ketergantungan impor jangka panjang yang membuat Indonesia kekurangan stok benih mandiri. Mendatangkan bibit dari luar negeri dalam skala masif dinilai tidak memungkinkan.

"Kan selama ini negara kita ini impor, yang kita makan itu impor. Maka untuk bisa tanam butuh bibit.

Bibit tuh misalnya kita impor dari mana lah, dari negara lain, misalnya mengimpor bibit dari China kan kita tidak mungkin impor bibit untuk 100 ribu hektare, Nggak mungkin tuh," kata Sudaryono.