>>> Amanda Manopo Bagikan Penampilan dan Rahasia Ramping Usai Melahirkan

Pembatasan dari negara asal mengharuskan Indonesia melakukan proses penangkaran secara bertahap. Tujuannya agar tanaman dapat beradaptasi dengan kondisi cuaca domestik.

"Satu karena memang negara asal tidak akan mengizinkan mengirim bibit sebanyak itu. Pastikan dikirim bibitnya sedikit, nah sedikit itu harus ditangkar.

Ditangkar oleh petani kita, di bawah binaannya Ditjen Hortikultura. Kemudian kenapa harus ditangkar, selain jumlahnya nggak cukup, juga harus ditangkar, disesuaikan dengan iklim kita," sambung Sudaryono.

Guna memulai rencana ini, Kementan berkolaborasi dengan Asosiasi Petani Bawang, ID FOOD, Bulog, hingga PTPN. Target awal penanaman seluas 5.000 hektare yang dibiayai negara.

"Mulai jalan tahun ini, tahun ini kita 5 ribu hektare.

Pakai APBN (tanam) 5.000 hektare, BUMN sama swastanya diharapkan 20 ribu hektare karena kita mengarah ke 100 ribu hektare," tutur Sudaryono.

Anggaran yang dialokasikan dari kas negara dipatok sekitar Rp75 juta per hektare untuk menyokong fase pembibitan awal.

"5 ribu hektare ya, jadi kira-kira Rp 75 juta kali 5 ribu hektare berapa itu?

Rp 75 juta kali 5 ribu hektare, sekitar Rp 400 miliaran lah," tegas Sudaryono.

Hasil panen perdana nantinya tidak akan langsung dialokasikan untuk konsumsi masyarakat. Melainkan dikonsentrasikan sebagai benih baru, sehingga pengurangan impor akan dilakukan secara bertahap seiring naiknya produktivitas lokal.

>>> Ghana Tekuk Panama 1-0 Lewat Gol Dramatis Caleb Yirenkyi

"Sembari berjalan ini nanti kuota impornya InsyaAllah akan terus kita, sambil kita kurangi dengan mendorong produktivitas dalam negeri kita," tegas Sudaryono.