Frugal living yang meluas tentu membawa konsekuensi bagi perekonomian. Dalam jangka pendek, hidup hemat membantu rumah tangga memperbaiki kondisi keuangan.

Namun jika dilakukan masif oleh jutaan keluarga kelas menengah, dampaknya terhadap perekonomian makro tidak bisa diabaikan.

Ketika konsumsi melemah, sektor ritel mengalami penurunan penjualan. Industri makanan dan minuman kehilangan pelanggan.

Pariwisata mengalami perlambatan. Dunia usaha mengurangi ekspansi.

Pada akhirnya, penciptaan lapangan kerja ikut melambat.

Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar.

Berbagai analis menilai menyusutnya kelas menengah dapat menjadi ancaman bagi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia karena konsumsi rumah tangga merupakan motor utama perekonomian.

Dalam konteks ini, fenomena frugal living dapat menjadi indikator awal bahwa daya beli masyarakat sedang berada di bawah tekanan.

Pemerintah perlu berhati-hati dalam membaca fenomena ini.

Jangan sampai frugal living dianggap semata-mata sebagai tren gaya hidup, padahal sesungguhnya mencerminkan kecemasan ekonomi yang lebih mendalam.

Langkah yang Diperlukan

Mengatasi tekanan pada kelas menengah membutuhkan pendekatan komprehensif. Pertama, menciptakan lapangan kerja berkualitas.

Indonesia tidak cukup hanya menciptakan banyak pekerjaan, tetapi juga pekerjaan dengan produktivitas dan upah memadai.

Kedua, meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan.

Transformasi digital akan terus mengubah struktur pasar kerja, sehingga investasi dalam pendidikan dan pelatihan menjadi kunci meningkatkan daya saing tenaga kerja.

Ketiga, menjaga stabilitas harga kebutuhan dasar. Inflasi yang terkendali merupakan syarat penting untuk melindungi daya beli kelas menengah.

Keempat, memperluas akses terhadap pembiayaan produktif.

Banyak keluarga kelas menengah terjebak dalam utang konsumtif, sementara akses pembiayaan produktif dapat membantu mereka membangun usaha dan meningkatkan pendapatan.

Kelima, memperkuat sistem perlindungan sosial yang adaptif. Kelompok kelas menengah rentan sering jatuh miskin ketika menghadapi guncangan ekonomi, kehilangan pekerjaan, atau masalah kesehatan.