Berbagai laporan menunjukkan pasca-pandemi banyak pekerja formal mengalami stagnasi pendapatan meskipun biaya hidup terus meningkat. Bahkan sebagian mengalami penurunan kualitas pekerjaan dari sektor formal ke informal.

Ketiga, tingginya beban utang rumah tangga. Rumah, kendaraan, pendidikan anak, hingga kebutuhan konsumsi sering dibiayai melalui kredit.

Ketika pendapatan tidak tumbuh sesuai harapan, cicilan menjadi beban semakin berat.

Data Mandiri Institute menunjukkan mayoritas kelas menengah di Indonesia memiliki cicilan atau kewajiban pembayaran rutin. Dalam situasi ekonomi tidak menentu, utang mempersempit fleksibilitas keuangan rumah tangga.

Keempat, perubahan struktur ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir masih berkisar 5 persen, namun belum sepenuhnya menciptakan lapangan kerja berkualitas dalam jumlah memadai.

Sebagian besar pekerjaan baru masih di sektor dengan produktivitas dan upah relatif rendah.

Akibatnya, mobilitas sosial menuju kelas menengah menjadi lebih sulit, sementara sebagian kelas menengah yang sudah ada menghadapi risiko turun kelas.

Frugal Living sebagai Identitas Sosial Baru

Dalam kondisi tersebut, lahirlah fenomena frugal living yang semakin populer, terutama di kalangan generasi muda dan keluarga kelas menengah.

Media sosial dipenuhi konten tentang cara hidup hemat.

Mulai dari membawa bekal ke kantor, mengurangi nongkrong di kafe, membatasi penggunaan kartu kredit, berburu diskon, membeli barang bekas berkualitas, hingga menunda pembelian barang yang tidak dibutuhkan.

Secara teoritis, perilaku ini sangat rasional. Dalam ekonomi, konsumen akan menyesuaikan pola konsumsi ketika menghadapi keterbatasan sumber daya.

Ketika pendapatan riil menurun atau ketidakpastian meningkat, rumah tangga cenderung meningkatkan tabungan dan mengurangi konsumsi.

>>> Aliansi BEM Bersatu Sebut Fortuner yang Dipakai Tiyo Ardianto Terdaftar atas Nama Siti Nuraeni