Dalam dunia akademik modern, penelitian ilmiah dianggap sebagai fondasi kebenaran yang paling dapat dipercaya. Namun, sebuah studi besar yang diterbitkan di jurnal Nature pada 2026 mengguncang keyakinan tersebut.

Studi itu menemukan bahwa hanya sekitar separuh penelitian ilmu sosial yang berhasil bertahan ketika dicoba ulang oleh peneliti lain.

>>> Pemkot Solo Sinkronkan Dua Kubu Keraton Jelang Kirab Malam 1 Suro

Sisanya gagal direplikasi, menghasilkan efek yang jauh lebih lemah, atau bahkan sama sekali tidak muncul kembali.

Fenomena ini dikenal sebagai replication crisis atau krisis replikasi. Intinya, banyak penelitian terkenal ternyata sulit dibuktikan kembali ketika eksperimennya diulang secara independen.

Krisis replikasi pertama kali mengguncang dunia psikologi satu dekade lalu, tetapi sesungguhnya ekonomi juga menghadapi persoalan yang sama.

Bahkan di Indonesia, gejala tersebut sudah lama terlihat, hanya jarang dibicarakan secara terbuka.

Contoh di Indonesia: Kemiskinan dan Inflasi

Selama bertahun-tahun, banyak penelitian ekonomi nasional menyimpulkan bahwa inflasi dan pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan kuat dengan tingkat kemiskinan.

Namun, ketika diuji menggunakan data berbeda atau metode yang lebih ketat, hasilnya sering berubah drastis.

Sebuah penelitian tentang pengaruh pertumbuhan ekonomi dan inflasi terhadap kemiskinan Indonesia periode 2007–2016 justru menemukan bahwa kedua variabel tersebut tidak memiliki pengaruh signifikan.

Nilai penjelasan modelnya hanya sekitar 23,7%.

Di sisi lain, penelitian lain mengenai inflasi dan kemiskinan di Kota Bima menemukan hubungan berbeda lagi.

Sementara studi di Sumatera Selatan menghasilkan kesimpulan yang tidak selalu konsisten dengan penelitian sebelumnya.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa banyak hubungan ekonomi yang selama ini dianggap jelas ternyata sangat sensitif terhadap metode, lokasi, periode data, dan model statistik yang digunakan.