Masalah dalam Model Makroekonomi dan Pengukuran Kemiskinan

Masalah serupa juga muncul dalam model-model makroekonomi Indonesia. Banyak ekonom menggunakan model Dynamic Stochastic General Equilibrium (DSGE) sebagai alat utama membaca ekonomi makro.

Penelitian terbaru terhadap data Indonesia justru menemukan bahwa beberapa asumsi utama yang lazim dipakai dalam model DSGE internasional ternyata tidak cocok dengan data empiris Indonesia.

Pembentukan kebiasaan konsumsi dan indeksasi harga ke belakang yang selama ini dianggap penting ternyata tidak terlalu relevan dalam kasus Indonesia.

Persoalan lain terlihat dalam pengukuran kemiskinan nasional. Angka kemiskinan Indonesia sering menjadi sumber perdebatan publik.

Banyak ekonom mempertanyakan apakah garis kemiskinan Indonesia terlalu rendah dibanding standar internasional.

Perdebatan ini makin terlihat ketika Badan Pusat Statistik (BPS) menunda pengumuman data kemiskinan dan rasio Gini pada 2025 untuk memastikan ketepatan dan kualitas data.

Penundaan tersebut memicu diskusi luas tentang metodologi statistik dan validitas pengukuran kemiskinan nasional.

Masalah ini tidak berarti data ekonomi Indonesia palsu.

Namun, ia menunjukkan bahwa statistik ekonomi bukanlah angka netral yang turun dari langit, melainkan hasil konstruksi metodologi, pemilihan sampel, definisi kemiskinan, dan berbagai asumsi teknis.

Krisis replikasi juga terlihat dalam ekonomi perilaku yang makin populer di Indonesia.

>>> Promo Belanja Hemat Indomaret 30 April hingga 6 Mei 2026

Banyak penelitian perilaku konsumen, inklusi keuangan, dan literasi keuangan menggunakan sampel kecil atau data survei terbatas untuk menarik kesimpulan besar.

Misalnya, studi tentang kerentanan finansial rumah tangga Indonesia menemukan bahwa faktor perilaku memainkan peran penting.

Namun, belum tentu hasil tersebut akan tetap sama jika diuji pada provinsi berbeda, kelompok sosial berbeda, atau kondisi ekonomi berbeda.