Banyak penelitian ekonomi Indonesia masih sangat jarang diuji ulang secara independen. Padahal dalam sains modern, replikasi merupakan jantung dari kredibilitas ilmiah.

Sayangnya, kultur akademik Indonesia justru sering bergerak ke arah sebaliknya. Kampus lebih menghargai publikasi cepat dibanding pengujian ulang yang teliti.

Dosen didorong mengejar jumlah jurnal untuk kenaikan pangkat, dan mahasiswa pascasarjana diburu target publikasi agar cepat lulus.

Akibatnya, banyak penelitian dibuat untuk memenuhi kebutuhan administrasi akademik, bukan benar-benar mencari kebenaran ilmiah jangka panjang.

Dalam ekonomi, masalah ini menjadi sangat serius karena hasil penelitian sering langsung diterjemahkan menjadi kebijakan publik.

Indonesia juga menghadapi persoalan terlalu bergantung pada imported economics.

Banyak model ekonomi dibangun berdasarkan pengalaman Amerika Serikat atau Eropa, lalu diterapkan begitu saja di Indonesia, padahal struktur ekonomi Indonesia sangat berbeda.

Karena itu, Indonesia membutuhkan budaya akademik ekonomi yang lebih sehat.

Kampus perlu mulai menghargai studi replikasi, dan jurnal nasional perlu memberi ruang lebih besar bagi publikasi yang memeriksa konsistensi hasil penelitian sebelumnya.

Pemerintah juga perlu lebih berhati-hati menggunakan satu penelitian sebagai dasar kebijakan besar. Data memang penting, tetapi data bukan kitab suci.

Setiap model ekonomi memiliki keterbatasan, setiap survei memiliki bias, dan setiap angka statistik dibangun di atas asumsi tertentu.

Pada akhirnya, krisis replikasi bukan berarti ekonomi gagal total sebagai ilmu pengetahuan. Justru sebaliknya, kemampuan ilmu untuk mengoreksi dirinya sendiri adalah kekuatan terbesarnya.

Masalah muncul ketika publik, akademisi, atau pemerintah memperlakukan penelitian ekonomi sebagai kebenaran absolut yang tidak boleh dipertanyakan.

Dalam konteks Indonesia, pelajaran paling penting adalah perlunya kerendahan hati intelektual. Kita hidup di zaman banjir data, banjir survei, dan banjir hasil riset ekonomi.

Namun, makin banyak penelitian diproduksi, makin penting pula kemampuan untuk bertanya: apakah hasil ini benar-benar kuat? Apakah sudah diuji ulang?

Apakah berlaku konsisten di berbagai daerah Indonesia?

Pertanyaan semacam itu bukan tanda anti-sains. Justru itulah inti dari semangat ilmiah yang sesungguhnya.

>>> Gempa Magnitudo 6,7 Rusak Belasan Rumah di Sulawesi Tengah

Sebab ekonomi yang sehat bukanlah ekonomi yang menuntut kepercayaan buta terhadap model dan angka statistik, melainkan ekonomi yang bersedia diuji terus-menerus oleh realitas.