Indef: Utang Luar Negeri Indonesia Rp7.784 Triliun Masih Aman
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menilai utang luar negeri (ULN) Indonesia yang mencapai sekitar Rp7.784 triliun masih aman dan terkendali.
Menurutnya, kondisi tersebut belum dapat dikatakan mengkhawatirkan hanya dari sisi nominal. Indikator keberlanjutan utang menjadi faktor yang lebih penting.
>>> Harga Minyak Mentah Global Merosot di Bawah 80 Dolar AS per Barel
Beberapa indikator tersebut meliputi rasio ULN terhadap PDB yang masih sekitar 30 persen, struktur utang yang didominasi tenor jangka panjang, serta kemampuan pemerintah dalam memenuhi kewajiban pembayaran tepat waktu.
"Namun, tren kenaikan utang tetap perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan beban bunga dan mempersempit ruang fiskal di masa depan," kata Rizal saat dihubungi Suara.
com, Rabu (17/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa besarnya ULN tidak otomatis membuat rupiah melemah. Nilai tukar lebih dipengaruhi oleh fundamental ekonomi, arus modal asing, dan ketersediaan devisa.
Namun, jika kebutuhan pembayaran utang valas terus meningkat tanpa diimbangi pertumbuhan ekspor dan investasi, hal itu bisa menekan rupiah.
>>> Produsen Perlengkapan Olahraga Populerkan Tren Sepatu Pink di Piala Dunia 2026
"Tekanan terhadap rupiah dapat semakin besar karena permintaan dolar AS ikut meningkat," ucapnya.
Rekomendasi untuk Pemerintah
Untuk mengurangi ketergantungan pada utang, pemerintah perlu memperkuat penerimaan pajak, meningkatkan efisiensi belanja negara, serta mendorong investasi dan ekspor bernilai tambah.
Pendalaman pasar keuangan domestik juga penting agar kebutuhan pembiayaan pembangunan lebih banyak berasal dari sumber dalam negeri daripada pinjaman luar negeri.
Dengan demikian, persoalannya bukan terletak pada besarnya utang, tetapi pada kualitas pemanfaatannya.
>>> Enam Wakil Asia Tak Terkalahkan di Laga Perdana Piala Dunia 2026
"Selama utang digunakan untuk kegiatan produktif yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kapasitas fiskal, risikonya masih dapat dikelola," pungkasnya.
Update Terbaru
Wanita Taiwan Rela Resign Demi Nonton Lionel Messi di Piala Dunia 2026
Rabu / 17-06-2026, 12:15 WIB
Ellips Luncurkan Hair Vitamin Khusus Rambut Helai Tipis Anti-Lepok
Rabu / 17-06-2026, 12:14 WIB
Harga Emas Perhiasan di Raja Emas dan Laku Emas Naik 17 Juni 2026
Rabu / 17-06-2026, 12:14 WIB
Oknum TNI Diduga Pukul Karyawan Minimarket di Atambua, Dipicu Kantong Plastik Rp500
Rabu / 17-06-2026, 12:14 WIB
Ekspor Perhiasan Indonesia Melonjak 64,73 Persen Sepanjang 2025
Rabu / 17-06-2026, 12:13 WIB
Alliance Laundry Systems Modernisasi Pabrik Thailand demi Pasar Indonesia
Rabu / 17-06-2026, 12:12 WIB
Jadwal dan Harga Tiket KM Kelud Belawan Juni 2026
Rabu / 17-06-2026, 12:12 WIB
PT Merdeka Battery Materials Tbk Usulkan Perombakan Jajaran Direksi
Rabu / 17-06-2026, 12:12 WIB
Bengkel Spesialis: Biaya Perawatan Peugeot Lawas Masih Terjangkau
Rabu / 17-06-2026, 12:12 WIB
Kementan Bagikan Bantuan Benih Perkebunan Berdasarkan Agroklimat Wilayah
Rabu / 17-06-2026, 12:12 WIB
Rupiah Melemah ke Rp 17.736 per Dolar AS pada Tengah Hari 17 Juni 2026
Rabu / 17-06-2026, 12:12 WIB
Lionel Messi Cetak Hattrick dan Ukir Rekor Baru di Piala Dunia 2026
Rabu / 17-06-2026, 12:09 WIB
Sembilan Tim Lolos Play-Ins FFNS 2026 Fall, Siap Bertarung di Yogyakarta
Rabu / 17-06-2026, 12:09 WIB
Threads Tembus 500 Juta Pengguna Aktif dan Rilis Fitur Komunitas Baru
Rabu / 17-06-2026, 12:09 WIB






