Pada 2024, jumlah kelas menengah tercatat sekitar 47,9 juta orang, turun signifikan dibanding 57,3 juta orang pada 2019.

Data terbaru menunjukkan pada 2025 jumlahnya kembali turun menjadi sekitar 46,7 juta orang.

Sebaliknya, kelompok aspiring middle class atau calon kelas menengah justru meningkat menjadi sekitar 142 juta orang.

Ini menunjukkan semakin banyak masyarakat berada di batas antara kelas menengah dan kelompok rentan.

Kelas menengah memiliki peran strategis dalam perekonomian.

Menurut BPS, kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah mencapai lebih dari 66 persen populasi Indonesia dan menyumbang lebih dari 81 persen konsumsi rumah tangga nasional.

Ketika kondisi kelas menengah melemah, mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional ikut kehilangan tenaga. Konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Oleh karena itu, kesehatan ekonomi kelas menengah merupakan cerminan kesehatan ekonomi nasional.

Faktor Tekanan pada Kelas Menengah

Ada sejumlah faktor yang menjelaskan tekanan yang dihadapi kelas menengah saat ini. Pertama, kenaikan biaya hidup lebih cepat dibanding peningkatan pendapatan.

Masyarakat menghadapi kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, mulai dari pangan, pendidikan, kesehatan, transportasi, hingga perumahan.

Meskipun inflasi agregat relatif terkendali, sejumlah komponen pengeluaran rumah tangga meningkat lebih cepat dari pertumbuhan pendapatan.

Bagi kelas menengah, situasi ini terasa berat.

Mereka tidak cukup miskin untuk menerima bantuan sosial, tetapi juga tidak cukup kaya untuk mengabaikan kenaikan biaya hidup.

Akibatnya, ruang fiskal rumah tangga semakin menyempit.

Kedua, meningkatnya ketidakpastian pasar kerja. Transformasi ekonomi digital menciptakan peluang baru, tetapi juga menimbulkan disrupsi di berbagai sektor tradisional.

Banyak pekerjaan yang dulu dianggap stabil kini menghadapi risiko otomatisasi, efisiensi, atau restrukturisasi.