Namun menariknya, frugal living kini berkembang menjadi identitas sosial baru.

Jika dulu gaya hidup mewah sering dianggap simbol keberhasilan, kini hidup sederhana mulai dipandang sebagai bentuk kecerdasan finansial.

Generasi muda tidak lagi terlalu tertarik pada simbol kemewahan berlebihan. Mereka lebih menghargai stabilitas keuangan, kebebasan finansial, dan pengalaman hidup bermakna.

Dalam perspektif ini, frugal living memiliki sisi positif. Budaya ini mendorong masyarakat lebih bijak mengelola keuangan, menghindari konsumerisme, dan membangun ketahanan ekonomi rumah tangga.

Akan tetapi, perlu dibedakan antara frugal living sebagai pilihan sadar dan sebagai respons terhadap tekanan ekonomi.

Jika seseorang memilih hidup hemat meskipun memiliki kemampuan finansial memadai, itu keputusan sehat.

Jika hidup hemat dilakukan karena pendapatan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat, fenomena tersebut menjadi sinyal adanya masalah struktural dalam perekonomian.

Dampak pada Perekonomian

Salah satu ciri utama kelas menengah adalah kemampuan melakukan konsumsi diskresioner, yaitu konsumsi di luar kebutuhan dasar.

Mereka membeli gadget terbaru, berwisata, makan di restoran, berlangganan layanan hiburan, dan membeli produk gaya hidup.

Konsumsi semacam ini menjadi motor penggerak berbagai sektor ekonomi. Namun ketika tekanan ekonomi meningkat, prioritas rumah tangga berubah.

Pengeluaran untuk hiburan menjadi yang pertama dipangkas, disusul rekreasi, fesyen, hingga pembelian barang tahan lama.

Banyak rumah tangga kini beralih dari pola konsumsi berbasis keinginan menjadi konsumsi berbasis kebutuhan.

Fenomena ini terlihat dari meningkatnya minat terhadap produk diskon, merek ekonomis, pasar barang bekas, serta platform yang menawarkan harga lebih murah.

Secara psikologis, masyarakat sedang beralih dari mode konsumsi ke mode bertahan.

Dalam mode bertahan, fokus utama bukan lagi meningkatkan kualitas hidup melalui konsumsi, melainkan menjaga stabilitas keuangan dan menghindari risiko.