Dirinya juga mengaku bingung dengan skenario perjalanan yang diatur oleh pihak lain dan merasa hak-hak timnya telah dirampas.

"We don’t know why they are returning us, to be honest," ucap Amir Ghalenoei.

Menurutnya, perubahan jadwal ini sangat janggal karena mereka awalnya dijadwalkan tiba dua malam sebelum pertandingan dan pulang pada keesokan harinya di waktu makan siang.

"I think it’s very strange. It seems like others are doing the planning for us.

The decision-making for us is being made elsewhere.

We were supposed to come two nights before the game, and we were supposed to stay tonight to recover and return tomorrow at lunchtime.

We have no idea why," tutur Amir Ghalenoei.

Ia mengeluhkan kondisi tersebut dan merasa skuadnya menjadi pihak yang paling dirugikan dalam kompetisi ini.

"I think our team is perhaps the most oppressed in the World Cup," sebut Amir Ghalenoei.

Ghalenoei menambahkan bahwa situasi ini mempersulit langkah mereka, tetapi komitmen tim untuk memberikan penampilan terbaik tidak akan surut.

"We are happy to go back to the Mexican people in Tijuana, but from a technical perspective we should have stayed here this evening," ungkap Amir Ghalenoei.

Ia menegaskan rintangan yang terus bermunculan tidak akan menghentikan perjuangan pasukannya di atas lapangan.

"They are making the situation more and more difficult, more hurdles, but we are not gonna stop from doing our best," tegas Amir Ghalenoei.

Taremi Minta FIFA Turun Tangan

Keluhan serupa disampaikan oleh penyerang andalan Iran, Mehdi Taremi, yang meminta otoritas sepak bola tertinggi dunia turun tangan membenahi kekacauan organisasi ini.