Media sosial tengah diramaikan oleh tren kesehatan ekstrem bernama "Protein Maxxing". Fenomena ini mendorong masyarakat mengonsumsi protein dalam jumlah sangat tinggi demi estetika fisik dan massa otot maksimal.

Pelaku tren ini mengonsumsi protein dari bubuk suplemen hingga camilan khusus. Mereka juga memangkas habis asupan karbohidrat dari menu harian.

>>> Pengguna Internet Indonesia 2026 Tembus 235,26 Juta Jiwa

Para pemasar makanan memanfaatkan momentum ini dengan menempelkan label tinggi protein pada berbagai produk.

Mulai dari kue hingga air minum kemasan, strategi ini menciptakan efek halo kesehatan yang menyesatkan.

Peringatan Ahli Medis

Meskipun banyak pembuat konten kebugaran mempromosikan aturan satu gram protein per pon berat badan, para ahli medis memberikan pandangan berbeda.

Colorado State University College of Health and Human Sciences mengeluarkan peringatan keras.

Menurut institusi tersebut, pendekatan ekstrem ini tidak diperlukan oleh masyarakat awam. Jika dilakukan jangka panjang, kebiasaan ini berisiko menyebabkan kerusakan organ permanen, terutama pada ginjal.

>>> Bank Sampoerna Luncurkan Deposito Online via Aplikasi SMB, Mulai Rp1 Juta

Analis Kebijakan Kesehatan, Anne Kamwila, menjelaskan bahwa metabolisme tubuh manusia tidak serta-merta membangun otot hanya karena asupan protein ditambah.

Tubuh memiliki batas maksimal dalam menyerap zat tersebut.

Data dari Mayo Clinic menunjukkan kebutuhan protein orang dewasa yang tidak aktif berkisar 0,8 gram per kilogram berat badan.

Sementara itu, Stanford Medicine menyarankan 1,2 hingga 1,6 gram per kilogram untuk individu aktif.

>>> BSI Pacu Pembiayaan UMKM dan Turunkan Rasio NPF

Jika konsumsi protein jauh melampaui angka rekomendasi, tubuh tidak akan memprosesnya menjadi otot. Protein berlebih justru dibakar menjadi energi atau disimpan sebagai lemak.