Estimasi suhu atmosfer planet ini mencapai kisaran 175 derajat Fahrenheit atau setara 79 derajat Celsius. Suhu tersebut jauh lebih rendah dibandingkan mayoritas planet raksasa lain yang pernah diteliti.

Para ilmuwan membandingkan suhu tersebut hampir sebanding dengan hawa panas di dalam kabin mobil yang diparkir di bawah terik matahari siang.

TOI-199b lebih hangat daripada Jupiter dan Saturnus, tetapi tetap jauh lebih sejuk daripada kelompok Jupiter panas.

>>> Inklusi Keuangan Indonesia Meningkat Lebih Cepat dari Literasi, OJK Soroti Kesenjangan

Metode Spektroskopi Transmisi

Para peneliti menggunakan metode spektroskopi transmisi untuk membedah komponen atmosfer TOI-199b.

Metode ini mengandalkan pendaran cahaya bintang yang menembus lapisan atmosfer planet saat objek melintas tepat di depan bintang induknya.

Instrumen Teleskop James Webb kemudian mengurai berkas cahaya itu menjadi spektrum panjang gelombang yang bervariasi.

Dengan cara tersebut, astronom mampu mengenali tanda unsur serta molekul kimia di atmosfer planet.

Penulis utama riset, Aaron Bello-Arufe, menjelaskan bahwa setiap zat kimia meninggalkan jejak penyerapan cahaya yang spesifik, seperti sidik jari manusia.

"Saat cahaya bintang melewati atmosfer planet, molekul-molekul tertentu akan menyerap panjang gelombang tertentu. Pola inilah yang memungkinkan kami mengidentifikasi komposisi atmosfer planet," jelasnya.

Tim peneliti mengalokasikan waktu pengamatan hingga sekitar 20 jam untuk menghimpun data dasar dari cahaya bintang secara akurat.

Durasi transit TOI-199b sendiri memakan waktu sekitar tujuh jam, jauh lebih lama daripada durasi transit eksoplanet Jupiter panas.

Indikasi Kandungan Gas

Hasil pemrosesan data menangkap sinyal keberadaan gas metana yang nyata pada atmosfer TOI-199b. Temuan ini berjalan beriringan dengan estimasi model teoretis mengenai karakter planet raksasa beriklim sedang.

"Ketika kami membandingkan spektrum selama transit dengan data dasar, terlihat jelas bahwa sebagian cahaya bintang diserap oleh metana di atmosfer planet," kata Bello-Arufe.

Selain metana, instrumen teleskop juga menangkap indikasi kuat kehadiran gas amonia serta karbon dioksida. Menurut Hu, pengamatan lanjutan akan membantu mengukur volume pasti masing-masing gas secara presisi.

Data dari riset lanjutan tersebut dapat digunakan untuk mematangkan model pembentukan planet dan evolusi atmosfernya.

>>> Kisah Jayrius Ong: Sopir Bus SMRT Berjuang Melawan Gagal Ginjal

Para peneliti optimistis studi TOI-199b ini berpotensi menyumbang perspektif baru bagi sejarah perkembangan atmosfer planet Bumi.