PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menerapkan manajemen risiko secara disiplin dalam penyaluran kredit.

Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi tantangan ekonomi global yang berpotensi memengaruhi kualitas aset perbankan nasional.

>>> PPATK Ajukan Tambahan Anggaran Rp 516,4 Miliar untuk Perkuat Pemberantasan Judi Online

Hingga Maret 2026, total penyaluran kredit BCA telah mencapai Rp 994 triliun. Dana tersebut dialokasikan ke berbagai segmen usaha secara selektif dengan mempertimbangkan kapabilitas adaptasi para debitur.

Executive Vice President (EVP) Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menjelaskan bahwa arah pertumbuhan kredit perseroan selalu menyesuaikan dengan indikator perkembangan perekonomian.

"Pada prinsipnya, pertumbuhan kredit akan sejalan dengan kondisi perekonomian.

BCA berfokus pada fundamental bisnis perseroan serta tetap mengambil langkah yang prudent dalam menghadapi dinamika saat ini," ujar Hera.

Langkah Mitigasi Risiko

BCA melakukan mitigasi risiko melalui pemantauan konsentrasi portofolio, pembatasan limit kredit, dan komunikasi intensif dengan debitur terdampak ekonomi.

>>> Kementerian ESDM Pastikan Harga BBM Nonsubsidi Bakal Turun

Perseroan juga memanfaatkan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS).

"BCA melakukan monitoring risiko konsentrasi kredit, termasuk penggunaan limit kredit dan kualitas portofolionya, serta melakukan evaluasi sektor industri berdasarkan prospek usaha dan tingkat risiko," kata Hera.

Ketahanan portofolio diukur secara berkala melalui stress test.

Rasio pencadangan terhadap loan at risk (LAR) tercatat solid sebesar 69,7%, sementara rasio non-performing loan (NPL) coverage mencapai 174,6% pada kuartal I-2026.

>>> Pendaftaran SPMB Jabar Tahap 1 2026 Dimulai, Catat Jadwal dan Jalurnya

"Pencadangan NPL dan LAR berada pada level yang memadai untuk menghadapi ketidakpastian kondisi ekonomi dan bisnis debitur," ujar Hera.