Meski teks MoU belum dipublikasikan, dokumen tersebut kabarnya memperpanjang masa gencatan senjata yang sempat diumumkan pada April lalu hingga 60 hari ke depan, guna memberikan ruang bagi negosiasi perdamaian permanen.

>>> Enam Bulan Baik untuk Menikah dalam Kalender Hijriah Menurut Cahaya

Berdasarkan kesepakatan ini, AS berkomitmen mencabut blokade di pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sebagai imbalannya, Teheran wajib menjamin keamanan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, yang praktis tersumbat sejak serangan AS dan Israel pada 28 Februari lalu.

Namun, pelaku industri memperkirakan pemulihan penuh produksi dan kilang minyak ke level sebelum perang akan memakan waktu mingguan, bulanan, bahkan tahunan.

Di sisi lain, ketidakpastian regional masih membayangi setelah Israel memilih menjaga jarak dari kesepakatan damai ini.

Ketegangan di lapangan pun belum sepenuhnya mereda; kantor berita Lebanon (NNA) melaporkan serangan pesawat nirawak (drone) Israel menewaskan sedikitnya empat orang di Lebanon selatan pada Selasa.

Insiden ini memicu teguran publik yang jarang terjadi dari Donald Trump terhadap taktik militer Israel.

Penurunan Permintaan China dan Penyusutan Stok AS

Dari sisi permintaan, data terbaru menunjukkan bahwa serapan minyak mentah China pada Mei melonjak turun hingga 9,1 persen secara tahunan (year-on-year) ke level terendah dalam hampir empat tahun terakhir.

Penurunan ini mengindikasikan bahwa sejumlah kilang di China mulai menguras cadangan internal mereka selama perang Iran berkecamuk.

Sementara itu, laporan American Petroleum Institute (API) mencatat persediaan minyak mentah AS menyusut tajam hingga 8,3 juta barel untuk pekan yang berakhir pada 12 Juni.

Angka penurunan ini jauh melampaui perkiraan pasar yang semula memprediksi penyusutan sebesar 4,6 juta barel.

>>> Pertamina: Harga Pertamax Masih Jauh dari Nilai Keekonomian

Pasar kini tengah menantikan rilis data resmi dari Badan Informasi Energi (EIA) AS pada Rabu siang waktu setempat untuk mengonfirmasi arah pasokan global.