Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah.

Langkah ini diambil untuk melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

>>> Emi Lo, Pengisi Suara Lucy Edgerunners, Ikut Mainkan Wuthering Waves

Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari menyatakan audit komprehensif ini bertujuan membenahi kualitas dapur, validasi data penerima manfaat, dan tata kelola internal.

"Nanti kami akan audit semua dapur, sehingga ketika anak-anak sudah masuk sekolah, kondisi di lapangan sudah lebih rapi," ujarnya.

Pemeriksaan menempatkan standardisasi fasilitas memasak sebagai prioritas utama.

"Karena tidak masuk akal ketika kita mengharapkan menghasilkan kualitas yang baik ketika dapurnya tidak sesuai dengan kaidah bagaimana flow of cooking yang baik," kata Arumsari.

Kebijakan refocusing membuat BGN memprioritaskan kelompok yang benar-benar membutuhkan intervensi gizi.

Selain audit, lembaga ini mengevaluasi insentif operasional SPPG sebesar Rp 6 juta per hari yang selama ini disamaratakan.

"Nanti itu termasuk yang setelah data penerima manfaat itu fix, kami harapkan nanti insentifnya nggak fix Rp 6 juta semua," ujar Arumsari.

>>> KPK Hentikan Penyelidikan Dugaan Korupsi MBG, Berkas Akan Diserahkan ke Kejagung

BGN mengidentifikasi ketidakadilan karena dapur yang melayani 1.500 penerima manfaat mendapat nominal insentif sama dengan dapur yang melayani 500 orang.

Proses validasi data riil penerima manfaat di setiap wilayah kini berjalan untuk merumuskan ulang besaran insentif yang lebih adil dan akuntabel.

Aturan ketat juga diterapkan pada tata kelola internal dengan melarang seluruh pegawai BGN memiliki SPPG.

"Pegawai BGN sebagai orang yang mengambil keputusan, mengambil kebijakan itu yang tidak boleh punya SPPG," tegas Arumsari.

BGN meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan instansi terkait untuk menetapkan kelompok prioritas utama penerima bantuan.

Evaluasi ini menjadi dasar penyusunan anggaran MBG tahun 2027, setelah sebelumnya BGN mendapat pagu indikatif Rp 270,2 triliun untuk melayani 81,5 juta penerima manfaat.

>>> Psikologi Warna: Mengenal Kepribadian Penyuka Warna Putih

"Yang jelas akan ada efisiensi lagi," kata Arumsari.