Qualcomm tengah mengembangkan lebih dari 40 desain perangkat keras baru berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menyambut kehadiran agen AI di ekosistem elektronik konsumen.

Langkah ini diambil untuk memfasilitasi evolusi asisten digital yang mampu mengeksekusi perintah kompleks secara lintas aplikasi, seperti mengelola transaksi perbankan hingga memesan tiket liburan tanpa navigasi manual.

>>> Marcela Iglesias Rencanakan Operasi Plastik Area Intim dengan Lemak Jenazah

Beragam Bentuk Perangkat Baru

CEO Qualcomm, Cristiano Amon, mengungkapkan bahwa variasi bentuk perangkat yang dipersiapkan sangat beragam.

"Saat ini, kami memiliki lebih dari 40 desain perangkat tersebut, dan variasi bentuknya sangat, sangat beragam," kata Amon.

Lini gawai baru ini diproyeksikan mencakup perhiasan pintar, pin, jam tangan, hingga alat bantu dengar (earbuds) yang terintegrasi dengan kamera pelacak situasi eksternal.

"Prinsipnya adalah sesuatu yang Anda kenakan, sesuatu yang selalu bersama Anda setiap saat, sesuatu yang dapat melihat dunia di sekitar Anda," ujar Amon.

Sistem ini dirancang untuk mengubah peran aplikasi konvensional menjadi ekosistem yang dikendalikan sepenuhnya oleh agen AI pintar secara otomatis.

>>> Pertamina Naikkan Harga Pertamax Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Juni 2026

"Aplikasi tidak mati tetapi aplikasi akan berubah. Agen-agen itulah yang akan menjadi aplikasi baru," kata Amon.

Pergeseran pusat kehidupan digital dari ponsel pintar ke perangkat berbasis agen diprediksi menciptakan peluang masif bagi pertumbuhan berbagai jenis gawai mutakhir.

Di sisi lain, potensi kacamata pintar dinilai sangat besar dengan proyeksi pengiriman mencapai ratusan juta unit dalam beberapa tahun ke depan, menyamai pangsa pasar telepon seluler saat ini.

Riset Counterpoint mencatat pengiriman telepon seluler global mencapai 1,26 miliar unit pada tahun 2025, memicu kompetisi ketat antara Meta, Samsung, hingga OpenAI yang mengakuisisi startup hardware io milik Jony Ive.

Perebutan pasar gawai baru oleh para raksasa teknologi ini juga dilandasi oleh motivasi penguasaan volume data yang jauh lebih besar dari sekadar data pelatihan model AI generatif.

>>> Alfamart Gulirkan Promo Juni 2026: Diskon Susu hingga 50% dan Cashback Diapers

"Jadi perusahaan-perusahaan tersebut menginginkan akses ke data itu, karena hal tersebut penting untuk melatih model di masa depan sekaligus menciptakan pengalaman AI yang dibuat khusus bagi penggunanya," kata Amon.