Kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini mulai mengancam profesi penagih utang atau debt collector. Agen AI mulai digunakan untuk memburu debitur yang telat membayar kewajibannya.

Kondisi inflasi tinggi di Amerika Serikat membuat masyarakat kesulitan mencari pekerjaan. Nilai utang di negara tersebut bahkan mencapai tingkat tertinggi sepanjang sejarah.

>>> IHSG Berpotensi Menguat Jelang Keputusan Suku Bunga BI

Situasi ini memicu lonjakan tajam pada jumlah pembayaran yang terlambat serta keterlambatan pembayaran kredit. Para kreditur pun perlahan mulai memanfaatkan agen AI untuk menggantikan peran penagih utang manusia.

Kasus Nyata: Panggilan dari Agen AI

Laporan terbaru dari Futurism menunjukkan bahwa implementasi agen AI dalam sektor penagihan utang kini makin meluas. Salah satu contoh kasus nyata dialami oleh seorang warga Seattle bernama Ben.

Ben menerima panggilan telepon dari "Eve", sebuah agen suara buatan yang dikirimkan oleh perusahaan penagihan ProCollect.

Telepon tersebut terkait sengketa utang sebesar US$ 226 (Rp 4 juta) kepada pemilik tempat tinggal terdahulunya, padahal Ben sudah melunasi kewajiban tersebut.

Saat berkomunikasi, sistem suara buatan itu terus mengulang pertanyaan yang sama secara mekanis. "Apakah Anda ingin menyelesaikannya hari ini dengan kartu atau transfer bank?"

tanya Eve.

Sistem tersebut juga menolak menghubungkan Ben dengan staf manusia meskipun dirinya sudah menjelaskan situasi yang sebenarnya.

Ben kemudian mencoba menguji sistem AI itu dengan metode yang tidak lazim dan berhasil terhubung ke staf manusia.

Petugas manusia itu akhirnya memverifikasi bahwa utang tersebut memang sudah diselesaikan dan proses penagihan itu merupakan sebuah kesalahan.

>>> OK Bank Sesuaikan Strategi Pendanaan Setelah BI Rate Naik ke 5,5%