Sepatu lari memiliki batas usia pakai yang optimal. Menggunakan alas kaki yang sudah melewati batas performanya dapat memicu risiko cedera pada area kaki.

Banyak pelari pemula kesulitan mendeteksi waktu yang tepat untuk mengganti sepatu. Sebagian besar hanya melihat kondisi visual luar tanpa memeriksa fungsi bantalan.

>>> Kylian Mbappe Lewati Rekor Gol Lionel Messi di Piala Dunia

Performa bantalan pelindung kaki akan terus menurun seiring intensitas pemakaian. Berikut panduan utama untuk mendeteksi tingkat keausan sepatu lari.

Batasan Jarak Tempuh

Setiap sepatu lari dirancang untuk menahan beban hantaman dalam jarak tertentu.

Pengulas sepatu lari, A Rachman, menjelaskan bahwa rata-rata sepatu perlu diganti setelah menempuh jarak 400 hingga 800 kilometer.

"Benchmark saya pribadi itu 500 km, itu sudah masuk kategori normal dan bahkan agak awet," ujar Rachman.

Rachman juga mengingatkan bahwa kerusakan material bisa terjadi akibat kesalahan penyimpanan. Sepatu yang terlalu lama disimpan tanpa pernah dipakai justru rentan mengalami kerusakan.

Penurunan Kondisi Fisik

Penurunan fungsi sepatu lari dapat dipercepat oleh faktor berat badan pelari dan jenis medan lintasan seperti aspal.

Kondisi fisik yang aus menjadi indikasi kuat sepatu tidak lagi layak guna.

Ciri yang paling kentara terdapat pada bagian sol tengah atau midsole yang mengeras. Saat komponen busa ini mati, kemampuan meredam benturan akan hilang.

>>> Yamaha Pajang Skutik Adventure Gear Ultima Kolaborasi Extra Joss di JFK 2026

Efek negatifnya, gaya tekan saat mendarat langsung menghantam area lutut serta tumit. Selain itu, sol luar atau outsole yang menipis juga menjadi indikator krusial.

Keausan sol luar yang tidak rata berpotensi mengubah mekanisme gerak alami kaki. Struktur bagian atas atau upper yang melar juga berbahaya karena tidak mampu mencengkeram kaki dengan stabil.