Piala Dunia 2026 menjadi turnamen pertama sejak pasar prediksi seperti Kalshi dan Polymarket meledak popularitasnya sebagai cara baru bertaruh pada olahraga.

Para penggemar di Amerika Serikat bebas memasang taruhan miliaran dolar secara kolektif. Namun, semakin banyak negara lain yang mempersulit akses ke platform yang menawarkan taruhan semacam itu.

>>> Valentin Barco Resmi Perkuat Argentina di Piala Dunia 2026

Apakah penggemar dapat bertaruh pada jumlah gol Kylian Mbappé atau siapa juara turnamen bergantung pada tempat tinggal mereka.

Dalam beberapa kasus, mereka bahkan tidak bisa bertaruh sama sekali.

Lonjakan Taruhan dan Respons Regulator

Piala Dunia diperkirakan menghasilkan tambahan taruhan sekitar US$3 miliar dan mendorong volume hingga US$10 miliar di berbagai platform, menurut analis Bernstein.

Dalam beberapa pekan terakhir, Spanyol, Indonesia, dan India bergabung dengan daftar negara yang menerapkan langkah sementara atau permanen untuk memutus akses ke Kalshi dan Polymarket.

Brasil menutup 27 platform prediksi pada April, termasuk Kalshi, yang salah satu pendirinya berasal dari Brasil. Langkah itu membuat perusahaan kelabakan setelah meluncurkan layanan di negara tersebut.

Regulator meningkatkan pengawasan seiring perusahaan berekspansi cepat ke seluruh dunia. Mereka menawarkan kontrak keuangan baru yang berada di wilayah abu-abu antara perjudian dan spekulasi.

Sebagian negara menganggap kontrak itu sebagai perjudian. Negara lain berpendapat produk tersebut harus diatur berdasarkan aturan sekuritas atau derivatif.

Startup di sektor ini memanfaatkan ketidakpastian hukum untuk tetap melayani pelanggan, sementara regulator berupaya mengejar perkembangan.

Pertarungan Legitimasi dan Tantangan Regulasi

“Pasar prediksi kini memasuki fase yang dialami setiap instrumen keuangan baru: awalnya pasar hobiis, lalu menarik perhatian massal, kemudian bertarung untuk legitimasi,” kata Dovey Wan, mitra pendiri Primitive Ventures yang mendukung Opinion Labs.