Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 4,12 persen atau bertambah 247 poin ke level 6.254,96 pada penutupan perdagangan Senin (15/6/2026).

Sepanjang sesi perdagangan, indeks bergerak di zona hijau dengan level terendah 6.118 dan tertinggi 6.345.

>>> Presiden FIFA Gunakan Jet Pribadi untuk Pantau Piala Dunia 2026

Kenaikan ini didominasi oleh faktor technical rebound dan didukung perbaikan fundamental pasar keuangan domestik.

Stabilitas nilai tukar rupiah dan penurunan yield obligasi pemerintah turut mendorong penguatan IHSG.

Rupiah spot ditutup menguat 0,85 persen ke level Rp 17.709 per dolar AS, sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun ke level 6,9 persen.

Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai rebound ini didukung kebijakan moneter dan de-eskalasi geopolitik.

"Rebound tersebut bukan tanpa dasar karena mulai terlihat tanda-tanda bahwa kebijakan moneter Bank Indonesia yang lebih tegas serta de-eskalasi ketegangan geopolitik turut membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan yield obligasi," ujar Rully.

>>> Kopi Game Super Mario Bros Langka Terjual Rp53 Miliar, Pecahkan Rekor

Meski demikian, arus modal asing masih cenderung selektif. Keberlanjutan penguatan IHSG ke depan akan bergantung pada penurunan risk premium Indonesia.

Jika rupiah mampu bertahan menguat dan yield SBN tenor 10 tahun turun bertahap dari level puncak di atas 7,4 persen, premi risiko Indonesia akan menurun.

Kondisi tersebut akan membuka ruang bagi masuknya kembali aliran dana asing ke pasar obligasi maupun saham.

Pelaku pasar saat ini terus mencermati sentimen global, arah kebijakan moneter, dan stabilitas pasar keuangan domestik.

>>> Rupiah Menguat ke Rp 17.709 per Dollar AS pada 16 Juni 2026

Investor juga menantikan konfirmasi lanjutan mengenai penurunan risk premium dan stabilisasi rupiah secara berkelanjutan.