Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memperkirakan harga obat di Indonesia berpotensi naik sebesar 10 hingga 20 persen akibat dampak melemahnya nilai tukar rupiah.

Perkiraan ini disampaikan Menkes berdasarkan data yang dilansir dari Detik Health pada Senin (15/6/2026).

>>> Haier Gandeng UFO Elektronika Debut di Jakarta Fair Kemayoran 2026

Pengamat kesehatan global dari Griffith University, Dicky Budiman, memperingatkan bahwa kondisi ini mengancam ketahanan kesehatan nasional.

Menurut Dicky, struktur industri farmasi domestik masih sangat bergantung pada bahan baku impor.

"Sejak lama Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap impor bahan baku obat," kata Dicky Budiman.

Dua Kategori Obat Terdampak

Dicky memaparkan bahwa lonjakan harga akan menyasar dua kategori obat.

Pertama, obat dengan komponen impor yang harganya fleksibel mengikuti pasar.

Kedua, obat-obatan penyakit kronis yang dikonsumsi masyarakat dalam jangka panjang, seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol.

>>> PSM Makassar Lepas Empat Pemain Jelang Musim Baru

"Obat-obatan grafik atau jangka panjang seperti obat hipertensi, diabetes, kolesterol, ini yang paling meresahkan masyarakat karena dikonsumsi rutin," ujar Dicky.

Dampak kumulatif dari kenaikan ini diprediksi menjadi beban berat bagi kelompok menengah ke bawah.

Mereka saat ini sudah menghadapi peningkatan biaya hidup, termasuk pangan dan listrik.

"Kenaikan harganya bisa langsung dirasakan tiap bulan," kata Dicky Budiman.

Dicky juga mengingatkan pemerintah bahwa kestabilan harga obat dalam skema BPJS Kesehatan tidak terjadi secara gratis.

Jika harga pokok produksi melonjak sementara harga obat BPJS dipaksakan stagnan, tekanan anggaran akan berpindah ke sistem pembiayaan BPJS Kesehatan.

>>> Kode Redeem FF 16 Mei 2026 Terbaru, Segera Klaim Lewat Reward FF Garena

"Ini adalah masalah yang harus kita antisipasi dalam jangka menengah, termasuk dampaknya," pungkas Dicky.