Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi memicu lonjakan harga obat dan mengancam keberlangsungan industri farmasi di Indonesia.

Dampak ini tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga berisiko menghentikan aktivitas produksi sektor kesehatan, terutama bagi industri farmasi skala menengah ke bawah.

>>> Produsen Inaco Targetkan Dana IPO Rp392 Miliar, Catat Tanggal Listing

Keterbatasan kemampuan membeli bahan baku yang kian mahal membuat ancaman kebangkrutan semakin nyata.

Tekanan Berlapis pada Apotek Kecil

Pengamat Kesehatan Global Griffith University, Dicky Budiman, mengatakan bahwa apotek kecil menghadapi tekanan berlapis.

Harga beli obat dari distributor naik, sementara harga jual ke pasien sulit dinaikkan.

Modal kerja pelaku usaha juga tergerus karena harus membeli stok dengan harga lebih mahal di tengah persaingan dengan jaringan ritel raksasa yang memiliki daya tawar dan modal lebih kuat.

>>> Persebaya Rekrut Lima Pemain Lokal Baru untuk Musim 2026/2027

Untuk menjaga margin usaha, Dicky mendorong skema kredit usaha bagi apotek kecil serta pemangkasan rantai distribusi melalui pembelian langsung ke Pedagang Besar Farmasi (PBF).

Digitalisasi melalui integrasi apotek kecil ke platform telemedicine dan e-farmasi dinilai efektif untuk mendongkrak volume transaksi harian.

Perlindungan melalui asosiasi juga penting. Ikatan Apoteker Indonesia dan Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia perlu lebih aktif mengadvokasi kebijakan yang melindungi apotek kecil.

>>> Di Balik Penguatan Rupiah dan IHSG: Respons Cepat Otoritas dan Peluang Investasi

Regulasi pembatasan ekspansi jaringan waralaba besar di wilayah tertentu diperlukan untuk menjaga ekosistem usaha mikro, seperti yang sudah diterapkan di beberapa negara.