Minat investor global terhadap pasar investasi Indonesia menunjukkan angka positif. Hal ini terlihat dari tingginya permintaan obligasi internasional perdana yang diterbitkan oleh Danantara.

Nilai penawaran yang masuk dilaporkan menembus angka US$ 4,6 miliar. Jumlah tersebut melonjak lebih dari tiga kali lipat dari target penerbitan sebesar US$ 1,5 miliar.

>>> Taxi Driver 3 Raih Rating 11,4 Persen Jelang Episode Terakhir

CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, memaparkan bahwa instrumen utang ini dipasarkan ke berbagai wilayah dunia.

Sebanyak 122 investor institusi di Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, Afrika (EMEA), dan Asia menjadi sasaran penawaran.

Dari hasil penjualan, korporasi asal Amerika Serikat menempati posisi teratas sebagai pembeli utama. Kondisi ini menjadi catatan menarik dalam sejarah penerbitan obligasi internasional milik entitas Indonesia.

"Boleh dibilang biasanya penerbitan obligasi dari Indonesia justru peminatnya kebanyakan dari Asia. Historical itu seperti itu.

Tapi ini justru kebalikannya, peminat dan yang membeli terbesarnya adalah dari Amerika Serikat," kata Rosan dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Senin (15/6/2026).

Dua Seri Obligasi dengan Tenor Berbeda

Dalam aksi korporasi ini, Danantara meluncurkan dua jenis surat utang internasional.

Produk pertama berupa obligasi jangka pendek tenor 5 tahun senilai US$ 750 juta dengan imbal hasil 5,35%.

>>> BPI Danantara Buka Suara soal Sorotan Lembaga Pemeringkat Global

Produk kedua adalah obligasi jangka menengah tenor 10 tahun dengan nilai serupa, US$ 750 juta, dan imbal hasil 5,95%.

Catatan pembukuan akhir untuk obligasi tenor 5 tahun mencapai US$ 1,45 miliar. Dana tersebut terkumpul dari 68 akun investor internasional.

Pada portofolio tenor 5 tahun, investor Amerika Serikat memegang porsi terbesar sebesar 38%. Sisanya diisi investor EMEA 41% dan Asia 21%.

Sementara itu, pembukuan akhir untuk obligasi tenor 10 tahun mencatat kelebihan permintaan hingga US$ 1,35 miliar. Penjualan diserap oleh 63 akun investor dunia.

Investor dari Amerika Serikat kembali mendominasi dengan porsi 52%. Sisanya terbagi untuk EMEA 31% dan Asia 17%.

Tingginya serapan pasar global ini dipandang sebagai bukti kepercayaan pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Peluang investasi jangka panjang dinilai masih terbuka lebar.

Rosan mengklaim banyak investor luar negeri menyampaikan ketertarikan untuk menyerap surat utang dengan jangka waktu lebih lama.

>>> Pemerintah Lanjutkan Program Indonesia Pintar 2026 untuk Siswa Kurang Mampu

"Mereka menyatakan kepada saya, sangat-sangat terbuka apabila Danantara ingin menerbitkan bond sampai yang 30 tahun," tegasnya.