Koreksi signifikan yang melanda pasar modal Indonesia dalam beberapa bulan terakhir dinilai membawa berkah tersendiri bagi peta investasi nasional.

Penurunan harga instrumen ekuitas tersebut justru mentransformasikan nilai valuasi sejumlah perusahaan terbuka menjadi jauh lebih kompetitif dan ekonomis.

>>> IHSG Melonjak 5,03 Persen ke Level 6.309 pada Sesi Pertama

Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa para pelaku investasi global memiliki indikator penilaian yang komprehensif.

Mereka tidak sekadar terpaku pada fluktuasi pergerakan indeks dalam jangka pendek, melainkan menaruh perhatian besar pada ketahanan fundamental ekonomi makro serta prospek pertumbuhan ekspansi Indonesia dalam jangka panjang.

"Karena koreksi yang kemarin selama hampir berapa bulan ini hampir 30 atau 40 persen pasar modal kita, ini menyebabkan pricing dari perusahaan-perusahaan kita menjadi sangat-sangat affordable, sangat-sangat baik, sangat-sangat murah malah," kata Rosan dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/6/2026).

Menurut Rosan, penurunan indeks yang sempat terjadi beberapa waktu lalu justru menjadi magnet tersendiri bagi institusi finansial mancanegara yang selama ini konsisten mengamati pergerakan pasar keuangan domestik.

Sebelum mengeksekusi penempatan modal, investor asing umumnya akan melakukan kalkulasi mendalam yang mengombinasikan faktor kesehatan fundamental korporasi, kapasitas pertumbuhan bisnis, rasio pembagian keuntungan, hingga posisi harga saham aktual.

"Pada saat mereka melihat oh fundamental kita bagus, perbankan kita pertumbuhannya bagus, dividennya bagus, yield-nya bagus, harganya di bawah, price to book-nya di bawah jauh dari harga pasar, ya otomatis mereka juga lihat oh ini it's time to buy," ujarnya.

Lebih lanjut, mantan Wakil Menteri BUMN ini menjelaskan bahwa para pengelola dana global memiliki karakteristik dan metodologi investasi yang sangat berbeda dengan pola transaksi sebagian besar investor ritel lokal.