Tahun Baru Islam sering memicu pembahasan mengenai kaitan antara Malam 1 Suro dan 1 Muharram.

Sebagian masyarakat menilai keduanya sebagai peringatan berbeda karena latar budaya dan tradisi yang berlainan.

>>> iCAR V23 Kenalkan Diri Lewat Pop Up Booth di Lima Kota

Padahal, Malam 1 Suro dan 1 Muharram pada hakikatnya jatuh pada momen yang sama.

Keduanya menandai pergantian tahun dalam sistem penanggalan masyarakat Jawa dan umat Muslim, meski penamaan, sejarah kalender, dan ritus masyarakatnya berbeda.

Asal-Usul Penamaan

Muharram merupakan bulan pembuka dalam kalender Hijriah yang menjadi pedoman umat Islam sedunia.

Bulan ini dipandang istimewa karena termasuk empat bulan suci atau bulan haram yang diagungkan dalam Islam.

Sementara itu, istilah Suro dipakai masyarakat Jawa untuk menyebut bulan Muharram.

Kata Suro berakar dari Asyura yang dalam bahasa Arab berarti sepuluh, merujuk pada hari kesepuluh bulan Muharram yang memiliki keutamaan tersendiri.

Seiring waktu, pelafalan Asyura bergeser menjadi Suro dan dilekatkan sebagai nama bulan pertama kalender Jawa.

Penyatuan Kalender Jawa dan Islam

Pertemuan antara 1 Suro dan 1 Muharram berawal dari kebijakan Sultan Agung Hanyokrokusumo. Raja Mataram Islam itu menginisiasi kalender Jawa-Islam pada tahun 1633 Masehi.

Sistem ini mengawinkan kalender Saka yang dianut masyarakat Jawa dengan penanggalan Hijriah. Perhitungan tahun bersandar pada peredaran bulan seperti Hijriah, namun unsur kebudayaan lokal tetap dipertahankan.

Langkah ini diambil untuk merekatkan elemen masyarakat Jawa yang memiliki keragaman budaya dan keyakinan. Alhasil, momentum awal tahun Jawa sengaja diselaraskan dengan permulaan tahun Hijriah.

>>> Kemenkeu Terima Penerimaan Negara Rp 1,02 Triliun dari Pemulihan Aset

Sisi Pemaknaan dan Ritual Tradisi