Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) merosot tajam pada Senin (15/6/2026) dan menyentuh titik terendah dalam 10 hari terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Penurunan ini dipicu oleh kesepakatan kerangka perjanjian perdamaian antara AS dan Iran yang mendorong penguatan aset keuangan berisiko tinggi.

>>> MDP Tolak Rinci Tuntutan Jaksa dalam Kasus Dokter Ratna Setia Asih

Sentimen positif pasar global muncul setelah pejabat kedua negara mengonfirmasi pencapaian kesepakatan dasar pada hari Minggu untuk mengakhiri konflik bersenjata, mencabut blokade ekonomi AS, dan membuka kembali Selat Hormuz.

Jalur pelayaran strategis tersebut memegang peranan penting karena mengalirkan sepertiga pasokan minyak mentah dunia.

Kabar perdamaian ini langsung mengoreksi harga minyak mentah dunia, di mana kontrak berjangka minyak Brent anjlok lebih dari 4 persen ke angka 83,82 dolar AS per barel.

Indeks Dolar AS juga tercatat turun 0,31 persen ke angka 99,492 yang menjadi posisi terlemahnya sejak 5 Juni lalu.

Mata uang Euro menguat 0,35 persen ke posisi 1,1607 dolar AS di pasar Asia, sementara Pound Sterling naik 0,3 persen menjadi 1,3448 dolar AS.

Dolar Australia turut melonjak 0,50 persen ke angka 0,7075 dolar AS dan Dolar Selandia Baru menguat 0,4 persen ke level 0,5854 dolar AS.

Pasar Tetap Waspada

Kendati direspons positif, pelaku pasar tetap menunjukkan sikap berhati-hati setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan melancarkan kembali serangan militer jika Iran gagal mencapai kesepakatan akhir terkait program nuklirnya.

>>> Tips Memeriksa Mesin Peugeot 405 Bekas agar Tidak Salah Beli

Sebagai opsi lain, Trump berniat menjadikan AS pelindung keamanan Timur Tengah dengan kompensasi 20 persen dari total pendapatan ekonomi kawasan.