Nick Twidale, Kepala Strategi Pasar di ATFX Global, Sydney, memprediksi nilai dolar akan terus mengalami penurunan dalam beberapa sesi perdagangan ke depan.

Menurutnya, mata uang yang sangat dipengaruhi oleh risiko pasar seperti Dolar Australia dan Yen Jepang kemungkinan akan sedikit menguat, namun pergerakannya tidak akan berubah secara drastis atau ekstrem.

Twidale menilai pasar masih akan memperhatikan perkembangan pemulihan jalur perdagangan internasional setelah konflik mereda.

Ia menambahkan bahwa akan ada banyak sikap menunggu dan melihat, terutama terkait seberapa cepat Selat Hormuz benar-benar dibuka kembali dan berapa lama waktu yang dibutuhkan agar aliran pasokan minyak kembali normal sepenuhnya.

Proses ini dipastikan akan memakan waktu berbulan-bulan, bukan hanya berminggu-minggu.

Di sisi lain, mata uang Yen Jepang justru melemah hingga menyentuh level 160,150 per dolar AS yang memicu potensi intervensi langsung dari otoritas keuangan negara tersebut.

>>> Keluarga Peserta BTN Jakim 2026 Soroti Respons Panitia dan Asuransi Usai Insiden di Lintasan

Pelemahan ini terjadi menjelang keputusan Bank Sentral Jepang (BOJ) yang dijadwalkan akan menaikkan suku bunga acuan ke level tertinggi dalam 31 tahun pada akhir pertemuan kebijakan dua hari hingga 16 Juni mendatang.