Populasi orangutan Tapanuli semakin kritis dan mendekati ambang kepunahan akibat bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatra pada akhir tahun 2025.

Studi terbaru dalam jurnal Current Biology mengungkapkan bahwa sekitar 58 ekor orangutan Tapanuli mati karena tanah longsor yang dipicu oleh Siklon Tropis Senyar.

>>> Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 Petakan Jenis Kekerasan Seksual di Kampus

Jumlah kematian tersebut setara dengan 11% dari populasi di area terdampak, atau mencakup 7% dari keseluruhan populasi liar yang tersisa.

Data kehilangan itu dinilai masih bersifat konservatif.

Peneliti mencatat angka tersebut belum menghitung dampak kerusakan kanopi hutan akibat hujan ekstrem serta berkurangnya sumber makanan bagi kera besar itu.

Jumlah orangutan Tapanuli yang hidup di alam liar saat ini diperkirakan kurang dari 800 ekor.

Berdasarkan daftar IUCN Red List, primata endemik ini berstatus terancam kritis atau critically endangered.

Curah hujan ekstrem terbukti menjadi ancaman nyata yang bisa mematikan populasi orangutan secara langsung.

Sebelum studi ini terbit, sejumlah ahli satwa liar menyadari adanya penurunan intensitas penampakan orangutan Tapanuli pascabadai.

>>> Timnas Iran Hadapi Selandia Baru di Laga Perdana Grup G Piala Dunia 2026

Para peneliti menegaskan bahwa Siklon Tropis Senyar merupakan anomali cuaca.

Namun, perubahan iklim yang didorong aktivitas manusia berperan besar dalam memicu kepunahan satwa jika populasi mereka berkurang lebih dari 1% per tahun.

"Jadi, jika terjadi peristiwa di mana sekitar 58 individu terbunuh dari 580, itu sekitar 10 sampai 11% dari populasi di sana dan 7% dari total populasi spesies tersebut," kata Profesor Sergei Vich, ahli primatologi di Liverpool John Moore University dan salah satu penulis studi.

"(Tingkat kematian) itu jauh melampaui kemampuan hewan-hewan ini untuk bertahan. Jadi ini adalah peristiwa yang sangat besar," tambahnya.

Dukungan Global untuk Penyelamatan

Dampak destruktif Siklon Tropis Senyar memperlihatkan kerentanan nyata orangutan Tapanuli yang baru diakui sebagai spesies terpisah pada tahun 2017.

Para ilmuwan kini mendesak langkah taktis berskala internasional demi menyelamatkan kelompok hewan yang tersisa.

>>> Abdul Rahim Amin Bukhari: Maestro Kaligrafi di Balik Kiswah Ka'bah

"Melalui penguatan perlindungan domestik, perencanaan yang responsif terhadap perubahan iklim, serta bantuan keuangan dan teknis dari global, kita masih dapat mencegah kepunahan modern pertama dari spesies kera besar," tulis tim peneliti.