Populasi orang utan Tapanuli, salah satu kera besar paling terancam di dunia, menghadapi risiko kepunahan yang semakin tinggi pascabencana alam di Sumatra.

Banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh dan Sumatra Utara pada akhir November 2025 dipicu oleh Siklon Senyar.

>>> Tokio Marine Life Optimistis Unitlink Prospektif Sepanjang 2026

Bencana ini menewaskan lebih dari 1.000 jiwa manusia.

Awalnya, para pakar konservasi memperkirakan dampak terhadap satwa tidak terlalu besar. Profesor Erik Meijaard dari Borneo Futures pada Desember 2025 menduga sekitar 35 individu orang utan tewas.

Namun, studi terbaru yang dirilis Rabu (10/6/2026) menunjukkan angka kematian jauh lebih tinggi.

Sekitar 58 individu dari total estimasi 800 orang utan Tapanuli mati akibat banjir dan longsor.

Jumlah itu setara dengan 7 persen dari keseluruhan populasi. Para peneliti menyebut angka ini masih konservatif karena belum termasuk kerusakan habitat dan berkurangnya pasokan makanan.

Tim kemanusiaan menemukan jasad orang utan tertimbun lumpur dan kayu di Desa Pulo Pakkat, Tapanuli Tengah, beberapa minggu pascabencana.

"Saya sudah melihat beberapa jenazah manusia, tapi ini pertama kali melihat satwa liar mati," kata Deckey Chandra, anggota tim kemanusiaan, dikutip dari BBC, Senin (15/6/2026).

Erik Meijaard yang mencermati dokumentasi temuan mengungkapkan kondisi lingkungan sangat ekstrem. "Seluruh daging di wajahnya telah terkoyak," ujarnya.

>>> Sektor Tunggal Putra Indonesia Kehilangan Ginting dan Zaki di Macau Open 2026

"Jika beberapa hektar hutan runtuh dalam longsor besar, orang utan yang kuat pun tak berdaya. Ibarat neraka di dalam hutan," tambahnya.

Laporan penelitian memperingatkan potensi hujan ekstrem serupa di masa depan yang mengancam satwa liar.