Meski mempertahankan teknik warisan leluhur, modernisasi tetap dilakukan dengan menghadirkan kilang penyulingan berkapasitas besar.

>>> Klaim Kode Redeem Cookie Run Kingdom Juni 2026 untuk Raih Crystal Gratis

Sari pati mawar didapatkan melalui proses pemanasan menggunakan tungku, kemudian ditampung dalam wadah galon transparan.

Satu wadah bejana ukuran sedang mampu menampung 35 ribu bunga mawar, sementara kilang besar dapat memuat hingga 600 ribu bunga.

Proses penyulingan membutuhkan waktu antara enam hingga delapan jam tanpa henti.

"Setelah selesai, air mawar akan berada di bawah dan minyak mawar atau attar di atas," ujar Dul.

Varian Produk dan Potensi Wisata

Air dan minyak hasil penyulingan diolah menjadi beragam produk, seperti parfum, sabun, lotion, obat rambut, air arus, hingga produk perawatan kulit.

Komoditas tersebut dipasarkan di toko depan pabrik, dikirim ke berbagai kota sekitar, hingga diekspor ke Jerman dan Cina.

Harga air mawar mulai dari 11 SAR (sekitar Rp52 ribu) per botol, lotion 16 SAR, dan parfum mulai dari 33 SAR.

Minyak mawar murni dibanderol hingga 400 SAR karena proses produksinya yang rumit dan ketersediaan terbatas.

Pabrik legendaris ini kini bertransformasi menjadi destinasi wisata utama bagi jemaah haji dan umrah.

Pengelola juga menyediakan kafe bagi pengunjung untuk bersantai menikmati suasana khas Al-Hada.

Tercatat tidak kurang dari 3.000 orang berkunjung pada musim haji, dan melonjak hingga 6.000 orang pada musim umrah.

Angka kunjungan tinggi ini mendatangkan pendapatan signifikan bagi bisnis keluarga tersebut.

>>> Ruang Fiskal APBN Menyempit, Subsidi Energi Membengkak

"Untuk satu produk saja mungkin Rp1-2 miliar per tahun," kata Dul.