Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran di industri otomotif, khususnya sektor sepeda motor.

Kenaikan BI Rate biasanya diikuti lonjakan bunga kredit. Akibatnya, cicilan bulanan kendaraan bisa membengkak dan daya beli masyarakat berisiko melemah.

>>> Pantai Gading Tahan Imbang Ekuador Tanpa Gol di Babak Pertama Piala Dunia 2026

Namun, pelaku industri menilai efek pengetatan moneter tidak akan langsung menghentikan laju pasar. Sektor pembiayaan disebut telah mengantisipasi dengan perhitungan matang.

Sentosa Tampomas, Chief Area DDS 1 Jakarta PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), mengatakan pihak finance company masih punya hitungan yang matang.

Kerja sama yang baik antara produsen dan perusahaan pembiayaan menjadi modal.

Saat ini, komposisi skema pembelian di Jakarta masih fifty-fifty antara tunai dan kredit. Pola ini berlaku hampir merata di semua tipe sepeda motor.

Secara teori, kenaikan suku bunga acuan mendongkrak biaya dana lembaga multifinance. Beban itu berpotensi dialihkan ke konsumen dalam bentuk bunga kredit atau angsuran lebih tinggi.

Konsumen yang mengandalkan pembiayaan kredit akan menghadapi penyesuaian cicilan. Mereka cenderung menunda pembelian, memperpanjang tenor, atau beralih ke model yang lebih murah.

>>> Asia Aquatics: Renang Perairan Terbuka Indonesia Berpotensi Besar

Dampak pergeseran ini lebih cepat terasa pada segmen konsumen sensitif terhadap pengeluaran bulanan. Kenaikan cicilan hingga ratusan ribu rupiah per bulan menjadi variabel penting dalam keputusan membeli kendaraan.

Kebutuhan Transportasi Tetap Tinggi

Meski dibayangi kenaikan suku bunga, permintaan pasar terhadap sepeda motor masih positif. Tingginya kebutuhan mobilitas harian menjadi jangkar utama penjualan.

Sentosa menambahkan, permintaan motor masih mendapat respons antusias dari konsumen. Mobilitas komuter yang sehari-hari menggunakan motor tetap mengandalkan kendaraan roda dua.

Sepeda motor dinilai sebagai opsi transportasi paling efisien untuk aktivitas harian di perkotaan. Terutama di Jakarta yang kerap menghadapi kemacetan lalu lintas.

Kami tetap optimistis penjualan motor di Indonesia, khususnya Jakarta, masih punya prospek, ujar Sentosa.

>>> Belanda Tahan Imbang Jepang 2-2 di Laga Dramatis Piala Dunia 2026

Sebagai informasi, BI menetapkan BI Rate di angka 5,50 persen. Langkah ini diambil untuk mengamankan stabilitas nilai tukar rupiah dari gejolak geopolitik global dan menekan inflasi domestik.