Bank investasi asal Swiss, UBS, memangkas proyeksi harga emas dunia secara signifikan. Penurunan perkiraan mencapai US$ 300 hingga US$ 900 per troy ounce.

Langkah ini diambil karena dua faktor utama yang menekan pergerakan emas. Pertama, rilis data ekonomi Amerika Serikat yang tetap kokoh.

>>> Hasil Piala Dunia 2026: Belanda vs Jepang Imbang 2-2

Kedua, penundaan pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve hingga tahun 2027.

Pada perdagangan Jumat (12/6/2026), harga emas ditutup menguat tipis 0,19 persen ke level US$ 4.218,91 per troy ounce.

Namun, para ahli strategi UBS memperkirakan harga emas bisa turun ke kisaran US$ 3.850-4.000 per troy ounce dalam waktu dekat.

Analis UBS, Dominic Schnider, Giovanni Staunovo, dan Wayne Gordon, menyebut ketangguhan pasar tenaga kerja AS dan naiknya imbal hasil riil sebagai pemicu tekanan baru.

Kondisi ini mendorong pasar menggeser ekspektasi ke arah potensi kenaikan suku bunga tahun ini.

>>> 3 Pola Pikir soal Uang yang Bikin Susah Kaya Menurut Ramit Sethi

UBS juga mencatat respons emas yang lemah terhadap eskalasi konflik AS-Iran.

Hal ini memicu aksi ambil untung investor, membuat harga lebih sensitif terhadap variabel makroekonomi seperti dolar AS dan imbal hasil riil.

Meski ada arus keluar moderat dari ETF emas, UBS menilai posisi kepemilikan masih jauh dari level ekstrem. Situasi ini dinilai masih memberi ruang bagi partisipasi investor baru.

UBS tetap optimistis terhadap prospek emas dalam 12 bulan ke depan. Skenario dasar mereka mengasumsikan The Fed akan memangkas suku bunga hingga 50 basis poin pada 2027.

>>> Jepang Imbangi Belanda 2-2 di Laga Perdana Piala Dunia 2026

Penurunan harga menuju US$ 3.850-4.000 per troy ounce dinilai sebagai momentum strategis. Investor dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan eksposur investasi.