Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (15/6/2026).

Berdasarkan data pasar, rupiah terapresiasi 0,48 persen ke level Rp17.774 per dolar AS.

>>> Sambut Hari Down Syndrome Sedunia 2026 dengan Pesan Inklusif

Penguatan ini dipicu oleh munculnya harapan tercapainya perdamaian antara AS dan Iran yang mendorong sentimen positif di pasar global.

Mata uang rupee India memimpin penguatan di Asia dengan kenaikan 0,67 persen, diikuti baht Thailand 0,52 persen.

Dolar Taiwan menguat 0,31 persen, won Korea Selatan naik 0,29 persen, ringgit Malaysia bertambah 0,23 persen, dolar Singapura terangkat 0,19 persen, peso Filipina menguat 0,16 persen, yuan China terapresiasi 0,06 persen, dan yen Jepang naik tipis 0,02 persen.

Analis pasar Lukman Leong menilai pergerakan rupiah berpotensi melanjutkan tren penguatan pada pekan ini.

Faktor meningkatnya harapan perdamaian di Timur Tengah serta pelemahan indeks dolar AS menjadi katalis positif bagi mata uang domestik.

Menurut analisisnya, sentimen global saat ini cenderung mendukung aset berisiko (risk on) setelah muncul laporan mengenai tercapainya kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran.

>>> Hubungan Golongan Darah dan Usia Harapan Hidup Terungkap

"Rupiah berpotensi kembali menguat terhadap dolar AS di tengah meningkatnya harapan perdamaian di Timur Tengah yang memicu sentimen risk on dan penurunan harga minyak mentah dunia," ujar Lukman.

Kabar kesepakatan damai interim antara AS dan Iran turut menekan indeks dolar AS, membuka ruang bagi mata uang negara berkembang termasuk rupiah untuk melanjutkan penguatan.

Penurunan harga minyak mentah dunia menjadi sentimen positif bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak karena harga energi yang lebih rendah berpotensi mengurangi tekanan terhadap inflasi dan neraca perdagangan domestik.

Nilai tukar rupiah hari ini diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Minimnya agenda data ekonomi penting dari dalam negeri maupun global membuat perhatian pelaku pasar lebih tertuju pada perkembangan sentimen global dan kondisi domestik.

>>> 7 Pilihan Mobil Listrik Rp 300 Jutaan untuk Liburan Sekolah

Investor juga diperkirakan mencermati kelanjutan aksi demonstrasi yang kembali berlangsung di sejumlah wilayah, meskipun pengaruh faktor domestik tersebut dinilai masih relatif terbatas selama situasi tetap kondusif.