Pergerakan harga emas dunia pada pekan depan diperkirakan masih dibayangi volatilitas tinggi.

Setelah sempat terjun mendekati level psikologis US$ 4.000 per ons troi, logam mulia ini berhasil bangkit dan kembali menembus US$ 4.200 per ons troi.

>>> iFixit Bongkar Trump Mobile T1, Temukan Kemiripan dengan HTC U24 Pro

Harga emas spot menutup perdagangan pekan ini di level US$ 4.210,52 per ons troi.

Tekanan berasal dari lonjakan inflasi Amerika Serikat, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, serta perkembangan konflik di Timur Tengah.

Sepanjang pekan, harga emas sempat menyentuh titik terendah US$ 4.023,10 per ons troi, level terendah sejak akhir 2025.

Namun, aksi beli kembali muncul sehingga harga mampu pulih menjelang akhir pekan.

Analis Terbelah, Mayoritas Pilih Wait and See

Managing Director Bannockburn Global Forex Marc Chandler mengatakan, pasar emas masih berada dalam fase yang sulit ditebak.

Menurut dia, perhatian investor kini tertuju pada sejumlah pertemuan bank sentral pekan depan, terutama rapat Federal Reserve yang untuk pertama kalinya dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh.

"Momentum teknikal memang mulai terlihat jenuh, tetapi belum menunjukkan pembalikan arah yang jelas. Saya lebih cenderung menambah kepemilikan emas jika harga kembali mencetak level rendah baru," ujar Chandler.

Hasil survei mingguan Kitco News menunjukkan para analis Wall Street masih belum memiliki pandangan yang solid.

Dari 17 analis yang berpartisipasi, hanya empat analis atau 24% yang memperkirakan harga emas akan naik. Sementara dua analis atau 12% memprediksi harga akan turun.

Mayoritas, yakni 11 analis atau 65%, memilih menunggu hasil rapat The Fed sebelum menentukan arah investasi. Di kalangan investor ritel, sentimen bahkan cenderung negatif.