Pergerakan Harga Emas Dunia Pekan Depan Dibayangi Volatilitas Tinggi
Dari 70 responden yang mengikuti jajak pendapat daring Kitco, sebanyak 49% memperkirakan harga emas akan turun pada pekan depan.
Sementara 39% memprediksi kenaikan dan sisanya menilai harga akan bergerak mendatar.
Optimisme vs Tekanan Jangka Pendek
Presiden Adrian Day Asset Management Adrian Day termasuk kelompok yang optimistis terhadap prospek emas. Menurutnya, kemungkinan besar harga emas telah menemukan titik terendahnya.
>>> Toyota Kokoh di Puncak, BYD Ancam Posisi Honda di Pasar Mobil Indonesia
Meredanya konflik Iran dan potensi penurunan harga minyak dapat mengurangi tekanan inflasi serta menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga.
"Meski belum tentu terjadi pemulihan yang agresif, peluang harga emas bergerak lebih tinggi terlihat lebih besar dibandingkan turun lebih dalam," katanya.
Pandangan serupa disampaikan Presiden Asset Strategies International Rich Checkan. Ia menilai level US$ 4.000 per ons troi telah terbukti menjadi area dukungan yang kuat.
"Jika kesepakatan damai tercapai, emas berpotensi naik pekan depan.
Bahkan jika kesepakatan gagal tercapai, harga emas masih berpeluang menguat, hanya saja kenaikannya mungkin tidak sebesar yang diharapkan pasar," ujarnya.
Meski demikian, tidak semua analis optimistis. Senior Market Analyst FxPro Alex Kuptsikevich memperkirakan, tekanan terhadap emas masih berlanjut dalam jangka pendek.
Meningkatnya peluang pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral utama dunia menjadi faktor utama yang membebani harga emas.
"Penembusan di bawah rata-rata pergerakan 200 hari mengonfirmasi rusaknya tren kenaikan jangka panjang yang telah berlangsung sebelumnya," kata Kuptsikevich.
Sementara itu, analis CPM Group memperkirakan harga emas masih berpotensi bergerak dalam rentang yang sangat lebar, yakni antara US$ 3.800 - 4.650 per ons troi dalam beberapa pekan ke depan.
Mereka menilai investor sebaiknya bersikap hati-hati karena pasar masih menghadapi sejumlah ketidakpastian besar.
Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16-17 Juni mendatang diperkirakan menjadi katalis utama yang menentukan arah harga emas pekan depan.
Sikap Kevin Warsh terkait inflasi dan suku bunga akan menjadi perhatian utama investor global.
Jika The Fed memberikan sinyal yang lebih dovish dari perkiraan pasar, harga emas berpeluang melanjutkan pemulihan.
>>> BSI Salurkan KUR 2026 Tanpa Bunga untuk Dukung UMKM
Sebaliknya, pernyataan yang lebih hawkish dapat kembali menekan logam mulia tersebut menuju area US$ 4.000 per ons troi.
Update Terbaru
Minat Anak Muda terhadap Mobil Sedan Peugeot Klasik Meningkat
Sabtu / 13-06-2026, 13:48 WIB
Generasi Muda Kini Dominasi Pengguna Mobil Sedan Peugeot Klasik
Sabtu / 13-06-2026, 13:48 WIB
PBVSI Tunjuk Toiran sebagai Pelatih Karteker Timnas Voli Putra untuk AVC Men's Cup
Sabtu / 13-06-2026, 13:48 WIB
Bukan Nasab Ayah, Nama Ibu Jennifer Coppen Disebut dalam Akad Nikah Justin Hubner
Sabtu / 13-06-2026, 13:47 WIB
PT Sumaco Wahana Utama Rampungkan Tinjauan Administrasi Bea Cukai
Sabtu / 13-06-2026, 13:46 WIB
Jadwal Perebutan Juara 3 ASEAN U19: Kamboja vs Indonesia 13 Juni 2026
Sabtu / 13-06-2026, 13:44 WIB
Bukan Karena DEMO! Meta Alami Gangguan Global, Facebook dan Instagram Sempat Tidak Bisa Diakses
Sabtu / 13-06-2026, 13:44 WIB
Komentar Gianni Infantino Soal Italia Tuai Kecaman Politisi
Sabtu / 13-06-2026, 13:42 WIB
Timnas Indonesia U-19 Incar Rekor Finis Ketiga Terbanyak di Piala AFF
Sabtu / 13-06-2026, 13:42 WIB
Alasan Elon Musk dan Mark Zuckerberg Pilih Cicil Rumah Mewah Terungkap
Sabtu / 13-06-2026, 13:42 WIB
Kemenag Buka Pendaftaran Nikah Massal Gratis di Jakarta hingga 23 Juni 2026
Sabtu / 13-06-2026, 13:40 WIB
KKP Siapkan Insentif dan Disinsentif Pengelolaan Sampah bagi Pemda
Sabtu / 13-06-2026, 13:40 WIB
Anker Luncurkan TWS Soundcore Liberty 5 Pro Series di Indonesia
Sabtu / 13-06-2026, 13:40 WIB
Christian Pulisic Cetak Assist, Lewati Rekor Cristiano Ronaldo di Piala Dunia
Sabtu / 13-06-2026, 13:40 WIB






