Elon Musk dan Mark Zuckerberg memiliki kemampuan finansial untuk membeli hunian mewah secara tunai.

Namun, kedua miliarder global ini justru lebih memilih skema kredit kepemilikan rumah (KPR) untuk membiayai properti mereka.

>>> Kemenag Buka Pendaftaran Nikah Massal Gratis di Jakarta hingga 23 Juni 2026

Para pakar keuangan menilai keputusan tersebut sebagai langkah finansial yang cerdas. Bagi kelompok ultra kaya, memanfaatkan cicilan rumah terbukti memberikan keuntungan yang lebih optimal dibandingkan membayar tunai.

Elon Musk, yang memegang predikat orang terkaya di dunia, tercatat memiliki beberapa pinjaman rumah dalam jumlah besar.

Salah satunya merupakan modal pinjaman senilai 61 juta dollar AS dari Morgan Stanley untuk mendanai lima properti di California.

Jumlah utang tersebut terhitung sangat kecil jika disandingkan dengan total kekayaannya yang mencapai 703 miliar dollar AS.

Alasan di balik keputusan ini bukan tentang ketersediaan dana, melainkan strategi penempatan aset.

Faktanya, sebagian besar kekayaan para triliuner tidak disimpan dalam bentuk uang tunai konvensional. Harta milik Musk maupun Zuckerberg umumnya dialokasikan pada instrumen investasi, kepemilikan saham, serta obligasi.

Direktur eksekutif penjualan di perusahaan properti Compass, Miltiadis Kastanis, menyebut kelompok ultra-high-net-worth mempunyai sudut pandang berbeda mengenai likuiditas.

Mereka enggan mengunci dana besar pada satu aset tidak bergerak.

Kelompok kaya ini memilih membiarkan uang mereka berputar pada bisnis atau saham yang menghasilkan keuntungan sekitar 10 persen per tahun.

Jika bunga cicilan rumah hanya berada di angka 5 persen, sistem pinjaman otomatis lebih menguntungkan.

CEO Meta, Mark Zuckerberg, juga menerapkan metode serupa untuk aset propertinya.

Pada tahun 2012, ia melakukan pembiayaan ulang untuk rumahnya di Palo Alto lewat kredit jangka panjang 30 tahun dengan suku bunga hanya 1,05 persen.