Harga emas dunia mulai memperlihatkan tanda-tanda pembentukan dasar atau bottoming setelah mampu bertahan di atas level psikologis US$ 4.000 per ons troi.

Kondisi tersebut memicu sebagian investor untuk kembali melakukan akumulasi, meskipun tren pelemahan jangka pendek masih membayangi pergerakan pasar.

>>> Pemerintah Tetapkan Aturan Gaji PPPK Paruh Waktu 2026

Dikutip dari Investor Daily, harga emas spot ditutup menguat 0,1% ke level US$ 4.219,32 per ons troi pada Jumat (12/6/2026).

Namun, secara mingguan logam mulia ini mencatatkan penurunan lebih dari 2% dan berada di jalur kerugian mingguan kelima berturut-turut.

Sementara itu, harga perak spot menguat 0,92% menjadi US$ 68 per ons dan relatif stabil sepanjang pekan.

Analis: Kemampuan Bertahan di Atas US$ 4.000 Jadi Sinyal Positif

Chief Market Strategist MarketGauge, Michele Schneider, menyatakan bahwa kemampuan emas bertahan setelah menyentuh level terendah tujuh bulan menjadi sinyal positif.

Meski demikian, pasar masih membutuhkan konfirmasi tambahan sebelum memastikan tren penurunan telah berakhir.

"Jika harga mampu ditutup di sekitar level saat ini, investor dapat mulai melakukan pembelian secara bertahap.

Namun, emas dan perak masih perlu kembali menembus level rata-rata pergerakan penting sebelum menjadi sinyal beli yang lebih kuat," ujar Schneider.

Menurut Schneider, pelemahan emas yang sempat menembus rata-rata pergerakan 50 hari dan 200 hari telah menimbulkan tekanan teknikal yang cukup besar, sehingga investor perlu bersikap hati-hati dalam jangka pendek.

Head of Business Development XS.

com, Simon-Peter Massabni, menilai kemampuan emas bertahan di atas US$ 4.000 per ons troi menunjukkan mulai munculnya pembeli jangka panjang yang memanfaatkan koreksi harga sebagai peluang masuk pasar.