Indonesia mengajak perusahaan China tidak hanya berinvestasi, tetapi juga membangun bersama untuk menciptakan rantai pasok yang lebih kuat, mengembangkan talenta, memajukan teknologi, dan melayani pasar regional dan global dari Indonesia.

Hal itu disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani dalam wawancara dengan Xinhua baru-baru ini.

>>> Debat Hunter Biden dan Nick Fuentes Panas, Bahas Ras hingga Pembunuhan MLK

"Peluangnya sangat besar, arahnya jelas, dan komitmen kami terhadap kemitraan jangka panjang tetap kuat," kata Rosan.

"China adalah mitra utama, dan kami terus melakukan diversifikasi hubungan untuk tetap tangguh," tambahnya.

Evolusi Hubungan Bilateral

Menurut Rosan, China merupakan salah satu pendorong strategis utama Indonesia saat negara Asia Tenggara ini mempercepat industrialisasi dan mengejar aspirasi pertumbuhan ekonomi.

China telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama tiga belas tahun berturut-turut dan secara konsisten berada di antara tiga sumber investasi asing langsung teratas.

Rosan menuturkan, hubungan bilateral telah berevolusi dari komoditas mentah menjadi integrasi industri yang sesungguhnya di bidang hilirisasi mineral, rantai pasok baterai kendaraan listrik, infrastruktur digital, dan energi terbarukan.

"Kerja sama kami juga berkontribusi pada ketahanan rantai pasok di kawasan.

Seiring perusahaan global melakukan diversifikasi produksi dan sumber pasokan, Indonesia dan China memiliki peluang untuk membangun kemitraan yang lebih seimbang dan berorientasi teknologi di bidang manufaktur maju, infrastruktur digital, dan industri masa depan," ujarnya.

Inisiatif Dua Negara, Dua Taman

Inisiatif "Dua Negara, Dua Taman" di bawah kerangka Belt and Road Initiative bergerak dari konsep ke implementasi dengan menciptakan ekosistem industri terintegrasi, bukan sekadar kumpulan proyek terisolasi.

>>> Cabut dari Persib, Federico Barba Langsung Diminati Klub Serie A Italia