Sejumlah ilmuwan China bekerja keras mengkloning yak, sejenis sapi berbulu panjang, di dataran tinggi Tibet.

Yak Tibet dirancang dan dikloning di laboratorium rahasia yang berada di atas 4.000 meter di atas permukaan laut.

>>> Thailand Hajar Laos 5-0, Geser Malaysia dari Puncak Klasemen Grup B

Harapannya, peneliti bisa menciptakan kawanan yak 'elit' yang lebih sehat dan subur daripada pendahulunya.

Para ilmuwan berharap proyek ini bisa menghidupkan kembali spesies liar yang dipuja penduduk Tibet sebagai hewan kesayangan dewa tanah.

Ancaman Kepunahan dan Upaya Konservasi

Sapi Himalaya berbulu panjang ini merupakan bagian penting dari ekonomi dan budaya Tibet.

Namun selama bertahun-tahun, yak domestik maupun liar terancam. Beberapa subspesies langka terancam punah sepenuhnya.

Otoritas di wilayah barat China telah menggelontorkan puluhan juta dolar untuk meningkatkan industri yak dalam beberapa tahun terakhir.

Yak hasil kloning pertama lahir pada Juli 2025. Media pemerintah China memujinya sebagai pencapaian yang menggabungkan kloning dengan seleksi gen.

Pada musim semi ini, akan ada lebih banyak yak hasil kloning. Para peneliti bertujuan menciptakan kawanan lebih dari 100 yak hasil kloning pada 2028 mendatang.

"Ini menunjukkan bahwa teknologi tersebut telah beralih dari keberhasilan sekali waktu menjadi aplikasi skala besar yang stabil," ujar pemimpin ilmiah proyek sekaligus Direktur Pusat Konservasi Negara untuk Sumber Daya Satwa Liar yang Terancam Punah, Fang Shengguo.

Kontroversi dan Misteri Proyek

Proyek yang didukung oleh pemerintah Tibet ini juga menimbulkan kekhawatiran. Kloning tetap kontroversial.

Banyak ahli mengakui ada argumen yang sah untuk menggunakan sistem kloning dalam konservasi. Tapi, masalah etikanya masih belum jelas.