"Setiap proyek semacam itu harus memiliki tingkat transparansi dan akuntabilitas publik yang tinggi," ujar dokter hewan sekaligus ahli bioetika Harvard Medical School, Lisa Moses.

Sejauh ini, sebagian besar proyek kloning yak masih penuh misteri. Sebagian besar informasi yang ada hanya terbatas pada liputan media pemerintah China yang memuji-muji keberhasilan proyek.

Yak sendiri termasuk ke dalam hewan terancam punah dan dilindungi. Jumlah yak telah menurun lebih dari sepertiga dalam 30 tahun terakhir.

Berdasarkan catatan Wildlife Conservation Society, hingga saat ini hanya tersisa 10 ribu hingga 20 ribu yak di dunia.

>>> Jennie BLACKPINK Kuasai Chart Global dengan 'Less than a Lover'

Ancaman kepunahan itu muncul akibat perubahan iklim dan degradasi habitat. Suhu yang lebih hangat meningkatkan persaingan sumber daya.

Para ilmuwan mulanya memilih yak yang paling kuat dan sehat sebagai donor DNA. Mereka mengambil sel somatik dan mengekstrak nukleus yang berisi informasi genetik yak.

Lalu, mereka memindahkan nukleus tersebut ke dalam sel telur yang nukleusnya telah dihilangkan. Sel telur yang telah dibuahi kemudian menjadi embrio bagi yak hasil kloning.

Embrio ditanam ke dalam rahim ibu pengganti untuk dikandung hingga lahir. Kloning pertama yang berhasil berasal dari DNA yak domestik.

Seekor yak berbulu hitam lahir melalui operasi caesar.

Video Xinhua memperlihatkan bayi yang baru lahir itu beristirahat di atas jerami, dielus, dan diperiksa oleh para ilmuwan.

Kesepuluh klon berikutnya lahir secara alami. Hingga Juni lalu, semua anak yak hasil kloning tumbuh dengan sehat.

Para peneliti China mengatakan pendekatan ini bisa membawa manfaat ekonomi yang besar bagi industri yak domestik. Metode ini diklaim jauh lebih cepat daripada proses reproduksi alami.