Harga Emas Dunia Tunjukkan Sinyal Bottoming di Atas Level US$ 4.000
"Kemampuan emas mempertahankan level US$ 4.000 per ons troi mencerminkan kehadiran pembeli strategis yang melihat setiap koreksi sebagai kesempatan untuk membangun posisi baru," kata Massabni.
Massabni menambahkan bahwa fase koreksi yang dalam kemungkinan sudah mendekati akhir, dan pasar kini lebih dekat untuk membentuk basis harga baru dibandingkan memasuki tren penurunan yang lebih luas.
>>> Tradisi Minum Susu Putih Sambut 1 Muharram 1448 H, Simbol Harapan Keberkahan
Sentimen Pasar dan Faktor Eksternal
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh optimisme mengenai hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran yang semakin dekat mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Harapan ini sempat mengurangi minat terhadap aset safe haven seperti emas, sehingga sejumlah analis mengingatkan volatilitas harga emas diperkirakan tetap tinggi.
Market Analyst FOREX.
com, Fawad Razaqzada, mengatakan arah harga emas dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada perkembangan harga energi dan minyak dunia.
"Tekanan jual terbesar kemungkinan sudah berlalu untuk saat ini.
Namun bukan berarti harga emas tidak bisa turun lagi, terutama jika harga minyak gagal mengalami koreksi lebih dalam," ujarnya.
Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor kini tertuju pada rapat kebijakan The Fed pada 16-17 Juni mendatang, yang menjadi rapat pertama yang dipimpin oleh Ketua The Fed Kevin Warsh.
Pasar secara luas memproyeksikan suku bunga acuan akan dipertahankan, tetapi investor tetap menunggu petunjuk mengenai arah kebijakan moneter berikutnya di tengah inflasi yang masih tinggi.
Analis Commerzbank, Barbara Lambrecht, mengatakan komentar Kevin Warsh dalam konferensi pers pasca-rapat berpotensi menjadi penentu arah harga emas selanjutnya.
"Jika Kevin Warsh menyampaikan pernyataan yang lebih hawkish dari perkiraan pasar, harga emas kemungkinan akan kembali melemah.
Sebaliknya, jika ia meredam ekspektasi kenaikan suku bunga, emas berpeluang pulih," ujarnya.
>>> Donald Trump Umumkan Pemimpin Kartel Tren de Aragua Tewas
Meskipun tekanan jangka pendek masih ada, sejumlah analis tetap optimistis terhadap prospek emas dalam jangka panjang karena menilai ruang kenaikan suku bunga AS relatif terbatas akibat biaya pinjaman yang tinggi berpotensi membebani perekonomian.
Update Terbaru
Mitchell Baker, Striker Muda 196 cm, Cetak Hattrick Debut untuk Timnas Indonesia
Selasa / 28-07-2026, 18:28 WIB
IOS 26.6 Resmi Dirilis, Apple Tambal 75 Celah Keamanan untuk iPhone
Selasa / 28-07-2026, 18:28 WIB
UNM Jalin Kerja Sama dengan BSI untuk Program Magang 3+1
Selasa / 28-07-2026, 18:21 WIB
Maybank dan PJI Edukasi 2.000 Siswa di Gianyar Lewat Program MELAIB
Selasa / 28-07-2026, 18:21 WIB
Rekor! J&T Express Kirim 9,18 Miliar Paket dalam Satu Kuartal
Selasa / 28-07-2026, 18:21 WIB
Jababeca Ecoweek 2026: 35.000 Bibit Mangrove Ditanam, Total Capai 100.000 Pohon
Selasa / 28-07-2026, 18:14 WIB
Ekspansi Path of Exile 1: Curse of the Allflame Resmi Rilis, Ajak Pemain Berlayar ke Laut Dalam
Selasa / 28-07-2026, 18:14 WIB
Skor Aksesibilitas Perbankan Hanya 57,76%, Riset MRI Soroti Rendahnya Empati Petugas
Selasa / 28-07-2026, 18:14 WIB
6 Game Perang PS3 Terbaik: Strategi, Aksi, dan Stealth yang Wajib Dimainkan
Selasa / 28-07-2026, 18:14 WIB
Kokushibo: Upper Rank One Demon Slayer dengan Moon Breathing dan Kelemahan Psikologis
Selasa / 28-07-2026, 18:07 WIB
Samsung Siap Tingkatkan Baterai Galaxy S27 Ultra Setelah Enam Tahun
Selasa / 28-07-2026, 18:07 WIB
Jonathan Ezekiel Sumbang Emas untuk Indonesia di Olimpiade Biologi Internasional 2026
Selasa / 28-07-2026, 18:07 WIB
PKB Run 2026: Gus Muhaimin Ingin Tradisi Lari Meluas ke Daerah
Selasa / 28-07-2026, 18:07 WIB
John Herdman Ungkap Alasan Pantau Timnas Indonesia dari Tribun, Tiru Gaya Luis Enrique
Selasa / 28-07-2026, 18:00 WIB







