Sejumlah indikator domestik mengirim sinyal perlambatan ekonomi melalui pelemahan keyakinan konsumen serta kenaikan biaya hidup.

Kondisi ini membayangi apresiasi nilai tukar rupiah yang sempat menguat ke posisi Rp17.910/US$ pada sesi perdagangan Jumat (12/6/2026).

>>> Dwayne Johnson Alami Epididymitis, Bukan Kanker Testis

Angka inflasi nasional melonjak menjadi 3,08% yang memicu kekhawatiran terjadinya pengikisan daya beli masyarakat.

Kelompok makanan dan minuman mencatat inflasi 4,94%, transportasi 2,3%, restoran 2,24%, kesehatan 1,70%, pendidikan 1,15%, serta perawatan pribadi yang melesat hingga 10,35%.

Tekanan dari lonjakan biaya hidup tersebut kini tidak hanya memukul masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi juga mulai meluas ke kelompok kelas menengah.

Kondisi ini dipicu oleh rangkaian kenaikan harga energi non-subsidi, termasuk Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax dan Elpiji non-subsidi sejak kuartal I-2026.

Keyakinan Konsumen Merosot

Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) merosot ke level 120,9 pada Mei 2026 dari posisi 123,0 pada April.

Angka tersebut menjadi yang terendah sejak September tahun lalu.

Penurunan IKK utamanya didorong oleh melemahnya persepsi publik terhadap situasi ekonomi terkini, di mana Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun 4,3 poin menjadi 112,2.

Masyarakat juga menahan diri dalam membeli barang tahan lama seperti kendaraan, elektronik, dan furnitur, yang tecermin dari turunnya indeks durable goods ke angka 108,3.

"Pelemahan ini mengindikasikan rumah tangga mulai bersikap lebih hati-hati di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya biaya pinjaman setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga dalam beberapa waktu terakhir," sebut Laporan Samuel Sekuritas.

Penurunan juga melanda persepsi ketersediaan lapangan kerja dalam enam bulan terakhir yang melosot ke level 105,0.