Ketidakpastian baru melanda kebijakan moneter global akibat dampak perang Iran terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Sebagian besar pejabat dari tujuh yurisdiksi mata uang utama dunia diproyeksikan mempertahankan suku bunga acuan mereka.

>>> John McGinn Bawa Skotlandia Ungguli Haiti di Babak Pertama Piala Dunia 2026

Langkah penundaan penyesuaian suku bunga ini diperkuat oleh upaya Presiden AS Donald Trump dalam mengupayakan kesepakatan damai dengan Iran.

Pembahasan tersebut dijadwalkan berlangsung di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi G-7 di Prancis.

Meskipun demikian, perbedaan arah kebijakan mulai terlihat setelah Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga untuk pertama kali sejak 2023.

Bank Sentral Jepang juga memberikan indikasi kenaikan biaya pinjaman untuk mengakhiri era kebijakan suku bunga rendah.

Federal Reserve dan Pertemuan Juni 2026

Federal Reserve dijadwalkan menggelar pertemuan pada 16 hingga 17 Juni 2026 yang akan dipimpin langsung oleh Chairman baru, Kevin Warsh.

Para pejabat diperkirakan masih mempertahankan tingkat suku bunga acuan di tengah lonjakan inflasi Mei yang mencatat laju tercepat dalam tiga tahun.

Tekanan harga yang meningkat mulai membebani daya beli konsumen di AS, meskipun pengeluaran ritel diperkirakan tetap tumbuh sebesar 0,5% pada Mei.

Kondisi ketenagakerjaan yang kuat menjadi faktor penentu lain bagi para pembuat kebijakan dalam menilai urgensi kenaikan suku bunga ke depan.

>>> Kanada Cekal Thomas Partey Jelang Laga Pembuka Ghana di Piala Dunia 2026

"FOMC hampir pasti akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan 16—17 Juni, tetapi sumber intrik terbesar mungkin adalah konferensi pers perdana ketua baru," kata para analis termasuk Anna Wong dan Andrew Sacher.

Siklus Suku Bunga di Kawasan Asia dan Pasifik