Angka ini menandakan bahwa publik mulai melihat peluang kerja dan potensi kenaikan pendapatan dengan cara yang lebih konservatif dibandingkan periode sebelumnya.

Dampak pada Sektor Ritel

Sikap menahan diri ini berdampak langsung pada sektor ritel nasional.

Data Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia menunjukkan laju penjualan pasar mulai melambat pasca-lonjakan musiman momentum Ramadan dan Idulfitri, bahkan mencatat kontraksi bulanan pada April setelah tumbuh kuat di Maret.

Perlambatan ini terlihat dari posisi Indeks Penjualan Riil (IPR) yang turun dari 256,7 pada Maret menjadi 226,9 pada April.

Bank Indonesia memproyeksikan angka ini akan kembali turun pada bulan Mei menjadi 225.

Tren penurunan tahunan data IPR selama dua bulan berturut-turut mengindikasikan ekspansi konsumsi rumah tangga bergerak menuju arah normalisasi.

Situasi ini menunjukkan masyarakat mulai selektif menentukan prioritas belanja akibat tingginya biaya pinjaman, meskipun belum menjadi sinyal krisis.

>>> Matt Reeves Mulai Syuting The Batman Part II di London

Di tengah pelemahan konsumsi domestik, sektor manufaktur justru menunjukkan performa positif.

Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia bangkit dari zona kontraksi, naik dari posisi 49,1 menjadi 50,0 pada Mei 2026.

Pergerakan ke level 50 menandakan aktivitas produksi nasional telah berhenti menyusut dan mulai stabil.

Pemulihan ini menjadi indikasi membaiknya permintaan pasar domestik dan eksternal pasca-tekanan ketidakpastian global serta pelemahan daya beli pada awal tahun.

Perbaikan kinerja industri manufaktur ditopang oleh pasar domestik seiring normalisasi kegiatan bisnis usai Lebaran.

Volume pemesanan baru (new orders) merangkak naik selama dua bulan beruntun dan mencatat laju pertumbuhan tercepat sejak Februari.

Namun, riset Samuel Sekuritas menyoroti adanya jurang pemisah yang melebar antara permintaan domestik dan internasional.